Selasa, 10 Juni 2014

Ucapan dan Tindakan Tanpa Pikiran


When you have not probed into a problem, into the present facts and its past history, and know nothing of its essentials, whatever you say about it will undoubtedly be nonsense.
— Mao Tse-tung, “On Practice and Contradiction” (hal. 43)

Belakangan aku menyadari artikel-artikel berbau politik dan opini masyarakat yang membabi buta mulai tersebar secara sporadis menjelang pemilihan presiden tahun ini. Beberapa kulihat mengemukakan fakta dan analisis kompeten yang merujuk pada metode investigatif menyangkut kebenaran apa dan siapa sebenarnya para calon-calon yang maju ke kursi kepemimpinan, yang tentu, lebih baik kita akui saja, masih tidak sepenuhnya terlepas dari selentingan kepentingan-kepentingan tertentu-bahkan tulisan ini pun juga tidak terlepas  dari kepentinganku sendiri (salah satu hal yang kupelajari dari Foucault: tidak ada hal yang netral) beberapa lainnya adalah murni kicauan subyektif asal dan sama sekali tak ada juntrungannya. Sejujurnya, aku bukan tipe orang yang mudah terlibat dalam silat adu opini. Terlebih dalam dunia internet, dunia yang bagiku tidak lebih dari hanya sekedar kubangan peluh tempat bersinggahnya para pendusta, kerbau-kerbau albino yang diri-sentris. Beradu opini dengan orang-orang seperti itu, adalah sama halnya berbicara dengan tembok konkret. Engkau otomatis ada dalam pihak yang dianggap gila. Kulit mereka terlalu tebal untuk dipenetrasi dengan rasio dan persuasi; terlalu tebal untuk ditembus hanya dengan gelombang suara. Ini adalah contoh nyata ekses dari kebijakan demokrasi-liberal, yaitu kebebasan berpendapat: hak semua orang untuk berbicara dan berpendapat, juga artinya adalah hak semua orang untuk berbicara omong kosong dan menebar kebohongan.

Aku disini lebih bersimpatik dengan Mao ketika ia berkata dalam teks influensial nya “On Practice” bahwa adalah sebuah tindakan yang dibenarkan untuk mencabut hak berbicara mereka orang-orang yang hanya gemar berbicara omong kosong (mengingat kondisi masyarakat yang kian lama kian semakin permisif seperti ini, menjadi didaktis adalah kualitas tersendiri). Ini bukan lagi persoalan mengenai hak asasi, tetapi mengenai moral. Kebebasan tanpa moral dan tanggung jawab itu tiada artinya. Bukankah Baudelaire sendiri pernah berkata bahwa kebebasan itu hanya pantas dimiliki oleh orang-orang yang mampu mengendalikannya? Mereka yang tidak mempunyai landasan moral dan tanggung jawab, tidak berhak untuk bebas. Sekali lagi aku tekankan disini, tidak berhak. Semua bentuk kehidupan manusia mempunyai larangan dan tanggung jawabnya sendiri-sendiri. Ini yang dinamakan norma. Mereka yang kerap berpikir bahwa norma selalu bersifat restriktif, adalah seorang romantisis yang delusional. Norma sosial memang adanya berbeda-beda dalam tiap kultur, tetapi secara garis besar nilai-nilai yang dipegang tetaplah sama: adalah normatif untuk tidak sekonyong-konyongnya menghadang orang asing yang engkau temui di jalan dan lalu memerkosa, mengamputasi kaki atau tangannya; adalah konvensional, untuk menghukum para pelaku pembunuh berantai atau pelaku tindak abusif yang ditujukan terhadap perempuan dan anak-anak. Jika engkau masih merasa bahwa norma semacam itu opresif, maka ada sesuatu yang benar-benar salah dengan dirimu. Engkau terlampau sensitif.

Bahkan masyarakat tribal mekanis (ala Durkheim) sekalipun -yakni anggota dari suku-suku paling terpencil di pelosok dunia- mempunyai nilai-nilainya sendiri yang ditanam sejak ratusan hingga ribuan tahun lamanya, sebuah landasan dan batasan untuk menjalani hidup sebagai komune, yang dapat menjaga keseimbangan relasi solidaritas antar sesamanya dan alam di sekitarnya (menjadi suatu norma). Esensinya, mereka (masyarakat tribal) adalah masyarakat yang bekerja berdasarkan asas egaliter: berbagi alat perkakas dan sumber pangan adalah merupakan bagian dari kode etik mereka, dan segala percobaan untuk memonopoli sumber daya, mengakumulasi kekayaan pribadi, atau mementingkan diri sendiri diatas kepentingan anggota adalah suatu pelanggaran yang bersifat normatif. Betapa ironis, mereka yang terstigmatisasi sebagai orang-orang liar yang tak beradab, yang termarjinalkan (karena menurut logika Aristotelian: manusia secara alamiah adalah penduduk kota, atau polis dalam bahasa Yunani; mereka yang memilih untuk tidak menjadi bagian dari penduduk kota, secara definisi, tidak patut dihargai), yang justru sewaktu-waktu lebih beradab dan lebih mempunyai norma ketimbang kita yang hidup jauh di dataran rendah, hidup dinaungi kemegahan kota dan yang mengaku sebagai manusia beradab.

Only an intellectual who has overdosed on abstraction could be dim enough to imagine that whatever bends a norm is politically radical.
— Terry Eagleton, “After Theory” (hal. 15)

Bagaimana cara engkau berbicara, apa makna dan pesan yang terkandung dari tiap perkataan yang keluar dari mulutmu adalah cerminan moral dirimu sendiri: bahasa adalah cermin dua arah yang merefleksikan realitas konkret (dunia disekitarmu dan dirimu sendiri). Jika engkau gemar berbicara asal, maka bisa dipastikan moralmu juga sama asalnya, barbar yang sesungguhnya; jika engkau berbicara tanpa mempertimbangkan norma, maka bisa dipastikan engkau adalah seorang bigot.

Tentu disini aku juga dengan tegas dan sadar mengabaikan dimensi metafisik dari sebuah Bahasa (berbicara mengenai sesuatu yang eksis sebelum atau independen dari apa yang konkret, ku percaya pada akhirnya, adalah juga omong kosong), dan membawanya ke ranah material (berdasarkan variabel yang dapat diverifikasi secara empiris), seperti apa yang seharusnya disipel diamat seperti diriku lakukan.

Keinginan orang-orang untuk terus berpendapat, beropini, untuk terus aktif berpartisipasi dalam politik ‘partisipatoris’ semacam ini, menurutku amat menyerupai strategi tipikal dari pengidap penyakit psikologis akut: neurotik obsesional. Bukankah ini apa yang selalu Lacan maksud dengan ‘aktifitas palsu’ (false activity): seseorang tak lagi hanya bertindak semata-mata untuk merubah sesuatu, tetapi ia juga bertindak agar sekaligus menghalau sesuatu untuk terjadi, agar tidak ada yang berubah. Disinilah letak permasalahan, paradoks dari apa yang kumaksud dengan strategi neurotik obsesional tadi: ia bertindak justru agar kenyataan yang sebenarnya tidak terungkap. Lacan biasa menyebutnya sebagai ‘subyek interpasif‘: aku pasif melalui the Other (aku bisa tetap aktif, saat the Other secara pasif menikmati aspek-aspek dalam kehidupanku). Kasus sederhana: dalam sebuah diskusi atau pertemuan kelompok, dimana ada tensi yang menunggu dibawah permukaan untuk lalu meledak (atau dalam istilah bahasa Inggris biasa disebut dengan “the elephant in the room”), seorang yang obsesional akan senantiasa berbicara terus menerus, ‘mencairkan suasana’ untuk menghalau momen kesunyian yang canggung, yang dapat mendorong semua orang untuk segera mengkonfrontasi tensi dan masalah yang menunggu di bawah permukaan tersebut. Ia tidak bisa hanya tinggal diam, membiarkan kesunyian itu terjadi, menunggu agar ‘gajah’ itu menampakkan bentuknya dan merusak atmosfer yang (menurutnya) sudah ‘kondusif’ (aku mentrivialisasi makna kondusif disini, kondusifitas itu sifatnya relatif). Ia akan terus berbicara omong kosong, bertindak, membuat dirinya terus aktif, untuk meng-imobilisasi lawannya. Singkatnya, mereka yang obsesional terus berbicara (aktif) agar dapat membungkam siapa saja selain dirinya, membungkam realitas sebenarnya yang selalu ingin ia tutup-tutupi (pasif).

Ini sebabnya mengapa aku selalu tersenyum nyinyir ketika ada orang yang berkata bahwa generasi ini adalah generasi yang bungkam, generasi yang enggan berbicara lantang. Menurutku itu adalah anggapan yang naif dan tidak peka sama sekali. Mereka yang kerap berkata seperti itu bisa kubilang adalah sentimentalis zaman Orde Baru (membencinya, tapi diam-diam merindukannya), yang masih saja terjebak di masa lalu. Karena apa yang kulihat dewasa ini justru sebaliknya: generasi ini adalah generasi yang terlalu mudah untuk angkat bicara dan terlalu mudah untuk bertindak.

Aku sendiri berpikir bahwa, dalam politik ‘progresif-partisipatoris’ seperti sekarang ini, bahayanya terletak bukan pada pasifitas para partisipan politik (partisipan yang kumaksud disini tentu menyangkut kita selaku anggota masyarakat), melainkan pada aktifitas-aktifitas yang sifatnya pseudo, dorongan semu untuk terus aktif dan berpartisipasi. Setiap orang ingin mengintervensi setiap waktu, setiap orang ingin mencoba untuk ‘berbuat sesuatu’ (maraknya portal petisi untuk ‘perubahan’ adalah salah satu dari banyak contoh yang tidak akan kusebutkan satu persatu disini) dan para akademisi yang seharusnya dapat menjadi barometer intelektual, malah ikut terus menerus berpartisipasi dalam debat-debat infantil yang tak berujung (yang membuat karakter mereka tidak jauh berbeda dengan para intelektual gauchiste dalam buku RanciĆ©re; mereka yang berperang melawan ‘fantasi’); kesulitan dalam model masyarakat seperti ini terletak pada keinginan untuk mengambil sedikit langkah kebelakang, untuk  menarik diri kita dari dorongan untuk sekedar berpartisipasi.

Praise to be the stars that implode. A new freedom opens up within them: annulled from space, exonerated from time, existing, at last, for themselves alone…
— Italo Calvino, “Numbers in the Dark and Other Stories” (hal. 262)

Tidakkah pernah terpikir dalam benakmu bahwa mereka yang berkuasa sengaja tidak melakukan apa-apa; atau melakukan sesuatu tanpa sepenuhnya merubah apa-apaseolah berpartisipasi dalam kebisuan massalmemilih untuk mengabaikan seruan kita, justru agar kita terpancing untuk sekedar berdialog, untuk bertindak (false activity), untuk memastikan bahwa pasifitas kita tak lagi terpelihara?

Perlu diketahui bahwa disini aku dengan sengaja menyentuh gagasan Hegel mengenai Ide sebagai wujud absolut (Ruh) yang superior dari sejarah: dimana Ide tetap berada diluar jangkauan konflik, membiarkan hasrat manusia bekerja dengan sendirinya dalam pergelutan bersama (contohnya bagaimana nesesitas historis dalam zaman Romawi kuno, transisi dari republik menjadi kekaisaran, terealisasi melalui ambisi dan hasrat Julius Caesar sebagai instrumennya). Ide atau Ruh dalam makna Hegelian disini termaterialisasi melalui apa yang dinamakan dengan subyek interaktifaku pasif melalui the Other (aku bisa tetap pasif, duduk di sofa dengan nyaman, saat the Othermelakukan aktifitasku untukku); anti-tesis dari subyek interpasif yang telah kujabarkan sebelumnya diatas. Mereka yang berkuasa adalah para pelaku interaktif, yang duduk pasif dengan nyaman di kursi singgasana nya (seperti bermain game virtual), menyaksikan seluruh hasrat dan ambisinya bekerja dengan sendirinya melalui kita (sebagai the Other; subyek interpasif), seperti sang Arsitek yang mengorkestrasi dunia matrix dalam film fiksi-ilmiah The Matrix.

Inilah alasan mengapa Badiou dan Zizek mengambil langkah krusial untuk kembali ke Hegel, untuk menguak habis kernel rasional dalam filsafat Hegel (Zizek melalui Lacan; Badiou melalui Mao), agar kita dapat memahami sepenuhnya moda dan pola kerja sistematis dari kondisi masyarakat opresif dan lalu memberikan kita kapasitas untuk mensubversinya.

Melawan moda interpasif semacam ini, dimana segalanya telah terinversi, dimana kita dituntut untuk selalu aktif untuk memastikan agar tidak ada hal yang benar-benar berubah, langkah kritis pertama yang harus dilakukan adalah untuk menarik diri kembali ke pasifitas, untuk terus menolak berpartisipasi. Yang harus kutekankan, menarik diri disini bukan berarti untuk pada akhirnya terlena dalam pasifitas yang sifatnya dekaden, tetapi lebih untuk memberikan celah baru agar aktifitas yang sesungguhnya (otentik) benar-benar terjadi, untuk memberikan celah pada tindakan yang secara efektif dapat merubah koordinasi dari sebuah konstelasi yang lalim (perubahan yang sesungguhnya). Dan menurutku, ajakan Zizek jauh terdengar lebih masuk akal bagiku sekarang: berhenti bertindak, dan mulai berpikir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar