Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Maret 2015

Cinta dan Kewarasan

Aku masih ingat, bagaimana di suatu siang, nyaris tiga tahun lalu, aku menikmati makan siang sederhana di sebuah rumah makan mungil di kawasan Salemba bersama kekasihku. 
Kami tak banyak bercakap-cakap. Kami lebih memfokuskan perhatian kami pada layar televisi. Ada sebuah berita di televisi yang menarik perhatian kami. Seorang pemuda tanggung menggantung dirinya sendiri, diduga akibat patah hati apabila melihat dari sebuah surat cinta yang ia tinggalkan di sebelahnya. Tidak, tidak. Kasus bunuh diri mungkin telah menjadi sesuatu yang lumrah di dunia posmodern di mana orang-orang mengalami kesepian akut. Tidak, bukan hal itu. 
Apa yang menarik perhatian kami adalah komentar sang pembawa berita: “Sang pemuda memilih mengakhiri hidupnya hanya karena persoalan cinta.”
Aku masih ingat, hingga kini, bagaimana kami saling berpandangan dan disusul dengan gerutuan kekasihku. Kami berdua jelas merasa keberatan atas komentar sang pembawa berita. Persoalan cinta, tidak seharusnya disandingkan dengan kata-kata “hanya”. 
Mungkin ia, sang penulis berita tak pernah tahu rasanya jatuh cinta, mungkin ia pernah disakiti tak terlalu dalam sehingga hanya berujung pada kesinisan, mungkin juga ia hanya sok tahu. Tapi kami berdua tahu. Kami berdua masih dipenuhi api asmara kala tersebut.
Kini setelah sang kekasih tersebut pergi dan hatiku berkeping-keping, dalam satu bulan patah hati terburukku, aku telah belajar banyak hal. Tidak hanya hal tersebut mendorongku untuk mengaji ulang perjalanan hidupku selama ini dengan lebih mendalam—yang membuatku lebih memahami diriku sendiri—melainkan juga menarikku ke dalam dunia ilmiah tentang mengapa manusia—termasuk diriku tentu saja—yang selama ini mengagungkan rasionalitas, justru bertindak irasional, hiperaktif, sembrono, gembira dan juga, lebih tepat disebut, kegilaan. Hal yang juga semakin menjelaskan tipe jalan macam apa dan mengapa CrimethInc. memilih pemberontakan berdasar sensasi jatuh cinta dan mengapa para Leninis dalam PRD menyatakan bahwa jatuh cinta yang demikian menggebu adalah sebuah tindak kontra-revolusioner: jatuh cinta membuat seseorang tak terkontrol.
Kegilaan kataku. Hal ini ternyata memang dibenarkan oleh sederetan pakar ilmiah, dari ahli biologi, neurologi, hingga psikiatris, bahwa eros, tipe cinta yang membara dan romantis, ternyata memberi komposisi kimiawi ke dalam otak pengidapnya sesuatu yang serupa dengan orang-orang yang divonis menderita penyakit obsesif-kompulsif. Dengan kata lain, cinta, mengaburkan batasan antara kesehatan mental dan psikopatologi.
Maka, kala kasus psikopatologi dianggap “hanya”, mungkin justru masyarakat hari ini telah secara diam-diam menganggap Jeffery Dahmer dan Dr. Mengele sebagai seseorang yang biasa-biasa saja. Common people.
Tahun 2006, Helen Fisher, seorang antropolog di New York City, Amerika Serikat, menyusun sebuah penelitian dengan mengandalkan mesin MRI (Magnetic Resonance Imaging), mengumpulkan sekian banyak orang-orang yang sedang dimabuk cinta akut, cinta dalam kategori eros. Para pecinta ini ditunjukkan dua buah foto. Satu adalah foto orang yang tak mereka kenal dan satu lagi adalah foto orang yang menjadi sasaran panah cupid mereka. 
Hasilnya mengagumkan. 
Saat foto kekasih mereka dimunculkan, otak para pecinta tersebut bereaksi berbeda. Cinta telah menghidupkan caudate nucleus, pangkal syaraf otak yang penuh saraf penerima dan menghasilkan dopamin, ramuan kimiawi cinta yang telah tersedia dalam tubuh. Dalam dosis tepat, dopamin menciptakan kekuatan, kegembiraan dan fokus. Saat dopamin ini membanjiri tubuh, kita tak akan merasa letih walau harus melek semalaman demi menunggu matahari terbit asalkan bersanding bersama sang terkasih, kita tak akan merasa takut walaupun harus melompati jurang apabila kita tahu hal itu demi berada di sisi sang terkasih. Sesuatu yang di kala normal, kita tak akan mampu melakukannya. 
Eros membuat diri kita berani menempuh resiko terbesar yang sering tak dapat diatasi. Dengan kata lain, eros membuat kita gila. Dalam dunia saat ini di mana mayoritas orang kehilangan kemampuan untuk mengambil resiko dan meraih mimpi, kita hanya menemukan eros dalam kisah-kisah fiksi, melalui buku dan film. Tetapi kukatakan satu hal, bahwa eros bukanlah fiksi. Ia nyata dan hadir dalam kisah harian di sekeliling kita.
Isteriku rela meninggalkan kerja dan keluarganya hanya demi untuk tinggal bersamaku. Aku pernah mengkhianati kawan lamaku, mengambil resiko dimusuhi banyak kawan-kawanku lainnya, meruntuhkan apa yang sebelumnya mati-matian berusaha kami bangun, hanya demi dapat berbagi momen memabukkan tak bermasa depan bersama kekasih kawanku tersebut. Kekasih lamaku menempatkan dirinya melindungiku dari amukan kekasih resminya yang mengamuk karena mendapati sang perempuan sedang bercinta denganku di kamar kostnya. Satu-satunya sahabat lelaki yang pernah kumiliki, menghilang setelah aku memilih mengencani seorang gadis yang kami berdua puja dan melukai hati sahabatku tersebut.
Aku akan melakukan apapun. Aku akan mengorbankan apapun. Sebagaimana juga kekasih-kekasihku rela mengorbankan dan kehilangan apapun. Dan memangnya kenapa, seseorang bisa memilih bunuh diri hanya karena urusan jatuh cinta? Mengapa kisah Ophelia berakhir tragis?
Donatella Marazatti, seorang profesor psikiatri di Italia, juga seorang seperti Fisher, yang penasaran mengapa sensasi rasa kala seseorang jatuh cinta dapat demikian dahsyat. Bersama rekan-rekannya, seperti juga yang dilakukan Fisher di New York City, Marazatti melakukan penelitian. Mereka mengukur kadar serotonin dalam darah pada sekian orang yang sedang dimabuk cinta. Serotonin adalah bintang pemancar syaraf dalam tubuh kita yang tanpanya kita akan tak terkendali. Dikaitkan dengan hasil-hasil penelitian para ahli lain yang telah sekian lama meneliti perilaku orang-orang dengan gangguan kejiwaan, Marazatti dan timnya menemukan bahwa ada kesamaan antara mereka yang dimabuk Eros dengan mereka yang menderita gangguan obsesif-kompulsif: keduanya mengalami kondisi ketidakseimbangan serotonin dalam darah.
Kadar serotonin pada para pecinta dan penderita obsesif-kompulsif 40% lebih rendah dari orang-orang normal. Obat-obatan anti-depressant seperti Xanax yang sedianya digunakan pada penderita obsesif-kompulsif sesungguhnya berfungsi untuk menaikkan kadar serotonin dalam darah. Dengan demikian, jelas obat-obatan tersebut dapat juga digunakan untuk menyembuhkan gangguan jiwa akibat jatuh cinta. Maka obat penyembuh mereka yang patah hati juga ternyata tidak terlalu sulit didapat, setidaknya dalam lingkungan sosialku: Xanax.
Kemampuan obat anti-depressant untuk menyembuhkan luka hati terbilang hebat. Ia menumpulkan kemampuan jauh cinta dan mencintai—ia juga bahkan menumpulkan hasrat seksual. Dengan obat ajaib tersebut, apabila dikonsumsi secara teratur, akan mampu membuat sebuah relasi cinta yang menggebu-gebu menjadi hambar dan basi. Eros ternyata begitu lemah pertahanannya di hadapan Xanax. Bukan alkohol seperti yang biasa dikonsumsi para penderita patah hati ternyata. Alkohol hanya akan menyebabkan derita pada lambung dan emosi yang semakin tak terkendali, alias hanya akan membuat penggunanya semakin terpuruk—dan seringkali bertingkah dramatis serta memalukan, tentu saja.
Apabila aku sadar hal tersebut, bahwa mereka yang jatuh cinta, patah hati karena cinta, tak berbeda dengan penderita obsesif-kompulsif alias orang yang dianggap gila, mungkin aku akan memilih Xanax di masa-masa aku terpuruk bulan lalu. Tapi bahkan mungkin pilihan untuk membuka hati dan membiarkan cinta hadir—membiarkan orang lain masuk ke dalam hati, hidup kita, mengaduk-aduk isinya sembarangan, mengubah kebiasaan dan menjungkirbalikkan akal sehat kita, bersedia menerima sakit yang luar biasa dahsyat berulang-ulang—adalah tindakan bodoh.
Orang-orang Kiri itu benar, ide para anarkis untuk mengambil inspirasi revolusioner dari soalan jatuh cinta adalah ide bodoh yang terlalu kental dengan bau borjuasi. CrimethInc. berisi orang-orang psikopat bodoh, sebodoh sang legenda Situationist International, Raoul Vaneigem. Sebodoh kisah Bertold Brecht tentang seorang revolusioner yang memilih untuk berjumpa dengan pujaan hatinya dan meninggalkan barikade di tengah sebuah kota yang sedang terbakar api insureksi.
Karena pada akhirnya, kesimpulannya begitu sederhana: Eros dan gangguan jiwa sulit dibedakan. Kesimpulan final: Jangan bodoh. Jauhi saja.
Celakanya, aku selalu memilih untuk menjadi bodoh.
“But I don’t want to go among mad people,” Alice remarked.

“Oh, you can’t help that,” said the cat, “We’re all mad here. I’m mad. You’re mad.”
“How do you know I’m mad?” said Alice.
“You must be,” said the cat, “Or you wouldn’t have come here.”

Lewis Carrol, Alice’s Adventures in Wonderland.

Jumat, 16 Januari 2015

Tentang Luka Sejarah 1965

Joshua Oppenheimer, adalah seorang pembuat film yang namanya mendadak menanjak di Indonesia. Sebentar, rasanya kurang tepat apabila dikatakan Indonesia, jadi mungkin lebih tepat dibilang: sebagian orang di Indonesia. Ia kini mendapat banyak sorotan. Lagi.
Apabila dulu akibat film besutannya yaitu Jagal atau The Act of Killing, kini karena filmnya, yang masih mengambil latar belakang yang sama, yaitu Senyap. Tapi agak berbeda dengan film yang disebut pertama yang dulu banyak meraup puja-puji, terutama di awal-awal penayangannya, barulah suara sumbang hadir kemudian, kini suara sumbang sudah hadir sejak mula.
Aku sebenarnya tidak pernah peduli dengan soal respon publik terhadap satu film karena kebanyakan hanya berkutat di seputar soalan suka dan tidak suka, soal selera. Begitu kita berbicara soal selera, bukankah jadinya soal bahasannya menjadi amat personal dan rasanya tak perlu diperdebatkan?
Perdebatan yang ada seperti menelisik mengapa aku tidak suka masakan Padang sementara isteriku suka sekali masakan tersebut. Isteriku bisa mengurai mengapa pencampuran banyak bumbu dan kepekatan rasa masakannya justru yang membuat masakan Padang menjadi lezat; sementara bagiku justru itulah kelemahan masakan Padang, karena terlalu banyak bumbu yang pekat sehingga mengaburkan karakter rasa tiap-tiap bahan mentahnya. Aku lebih suka yang relatif hambar seperti masakan Jepang, yang kebanyakan justru memang menguatkan karakter tiap bahan mentah.
Apa yang keliru dari kami berdua? Ada?
Bagi kami tidak ada sama sekali. Perbedaan kami selesai di tahap bagaimana kami memang memiliki seleranya sendiri. Aku bisa membiarkan isteriku menikmati masakan Padang favoritnya dan aku bisa menikmati masakan favoritku. Aku bisa mengantarnya membeli masakan Padang dan begitu juga sebaliknya.
Tapi kami juga bisa membahas panjang lebar mengenai mana masakan Padang yang enak berdasar karakter yang memang diangkat oleh masakan Padang dan Jepang. Seperti misal bagaimana masakan Padang yang ini enak dan yang itu tidak, seberapa dekat satu restoran dengan karakter asli Padang, sehingga bisa dinilai mana masakan Padang yang baik dan mana yang tidak. Aku tidak suka banyak bumbu yang meniadakan rasa bahan utama, tapi isteriku juga mengajariku untuk memahami bahwa kalau tidak begitu maka bukan masakan Padang namanya. Begitu juga dengan masakan Jepang. Masakan Jepang yang rasanya mirip semur tentu jadi bukan masakan Jepang yang baik. Itu bisa kami bahas jauh dan mendalam berdasar karakteristik tiap makanan.
Pendeknya, kami berdua bisa membedakan mana penilaian suka / tidak suka, mana penilaian bagus / tidak bagus. Yang pertama berdasarkan masalah selera personal dan karenanya tidak bisa diperdebatkan, sementara yang kedua bisa diukur karena dapat ditelisik dengan bersanding pada poin-poin yang terukur berdasar karakter masing-masingnya.
Kini kembali pada soal film-film besutan Joshua, aku melihat banyak kritikus—yang uniknya hadir dari kubu kaum yang mengaku Kiri, progresif, radikal—justru yang tidak mampu membedakan apa yang kupaparkan di atas. Mereka mencampuradukkan selera personal, dalam soal ini keinginan-keinginannya sendiri, dengan soal bagaimana sebuah film dapat dinilai baik tidaknya. Kritik terakhir yang kuterima malah sudah melangkah lebih jauh lagi, yakni mengajukan dugaan bahwa film karya Joshua sebagai film pro-Orde Baru.
Kritik umum dari kubu tersebut, selain kritik terakhir yang menurutku mulai keterlaluan dan lantas kuanggap sampah, seperti juga pernah kudiskusikan bersama seorang kawanku, selalu berkutat pada soalan bagaimana Joshua tidak memberi sorotan yang memadai pada soalan keterkaitan militer, CIA beserta kepelikan konspirasi papan atas. Tidak lebih.
Sepanjang pemahamanku, selagi sang pembuat film masih hidup, bukankah sebaiknya yang dilakukan terlebih dulu sebelum memublikasikan sebuah tulisan, adalah klarifikasi.
Aku pernah menulis singkat mengenai pertanyaan yang mengganjal dan tak enak berdasar pendapatku setelah menonton Jagal, yaitu tentang apakah sesungguhnya memang kita memiliki sisi gelap, yang hanya menunggu momen yang tepat untuk hadir dan menjelmakan diri kita menjadi monster. Salah seorang kawanku memberikan tulisanku tersebut pada Joshua, memertanyakan pendapatnya mengenai hal yang kuajukan tersebut. Joshua merespon, bahwa itu adalah salah satu hal yang ia juga sadari saat ia menyoroti para pelaku. Aku heran, kalau aku saja yang bukan siapa-siapa bisa berkomunikasi dengan Joshua, mengapa tidak mereka para kritikus yang namanya sudah naik daun di kalangan aktivis? Sepertinya ini soalan kemauan atau tidaknya para kritikus untuk melakukan klarifikasi dengan Joshua.
Selain klarifikasi, semestinya para kritikus juga menyadari bahwa ada dua hal yang seharusnya tak luput dari penilaian. Pertama, pemahaman mengenai medium yang dijadikan subyek, dalam soal ini adalah film; kedua, pemahaman soal tema yang diangkat itu sendiri, yaitu soal tragedi 1965.
Mungkin ada baiknya membandingkan film besutan Joshua tersebut dengan film Apocalypse Now besutan Coppola tahun 1979. Film tersebut diadaptasi dari novel Heart of Darkness karya Joseph Conrad dan berhasil menempatkan filmnya sebagai salah satu film perang terbaik sepanjang masa. Mengapa aku membandingkan karya Joshua dengan karya Coppola? Sederhana, karena seturut kritik yang dilancarkan di mana kedua pihak sama-sama berbicara mengenai sebuah tragedi dan keduanya berjarak pada topik politik. Coppola sama sekali tidak membahas mengenai bagaimana Amerika Serikat dengan sengaja membenarkan serta meraih dukungan publik untuk melancarkan perang Vietnam dengan insiden Teluk Tonkin. Coppola membahas mengenai satu sisi gelap manusia, bukan politik. Coppola mengajukan pertanyaan, bukan memaparkan fakta. Lalu perhatikan film karya Joshua. Joshua memberi fokus pada paparan pelaku pembantaian, tidak pada politik. Soalan politik yang diangkat hanya sepintas lalu memang, karena menyertakan barisan Pemuda Pancasila dalam alur filmnya. Joshua juga memerlihatkan bahwa ternyata para pelaku bukan saja dari kalangan militer atau mereka yang mendominasi persenjataan, melainkan dari kalangan orang-orang biasa.
Pertanyaannya kemudian adalah: apakah lantas kedua film tersebut jadi film yang buruk? Di batas apa kita memakai takaran baik dan buruk pada medium film tersebut? Apakah hanya karena keduanya tidak memberi fokus pada politik maka keduanya secara otomatis jadi buruk? Apakah semua karya harus mengangkat muatan politis?
Seorang kawan menyanggah pendapatku dengan mengatakan bahwa kasus Vietnam sudah selesai, sementara kasus 1965 belum. Mungkin aku yang buta sejarah, tetapi sepanjang pengetahuanku, Amerika Serikat baru menyelesaikan kepelikan kasus ini di tahun 2013 lalu dengan membayar 22 milyar dolar pada para veteran, keluarga korban dan klaim-klaim yang berkaitan dengan perang tersebut. Itu saja belum dengan melakukan pengakuan dan rekonsiliasi dengan para keluarga korban sipil di Vietnam. Jadi bagaimana aku bisa mengatakan bahwa kasus Vietnam sudah selesai? Sama dengan Indonesia, kasus 1965 juga belum kunjung selesai.
Jadi pertanyaannya tetap: apakah dengan begitu lantas Coppola dan Joshua sama-sama bisa dianggap memroduksi film yang tak bermutu hanya karena tak membahas soalan politik?
Kritik pertama yang dilontarkan para kritikus film besutan Joshua dengan demikian jadi mudah dianggap lalu saja, karena toh mereka mengajukan kritik berdasar selera tema favorit mereka sendiri, yang semestinya urusan personal. Kalian suka film yang memberi fokus pada urusan politik? Silahkan. Tapi jangan harap semua orang memiliki kesukaan yang sama.
Itu semua baru apabila kita membahas fokus yang dipilih sang pembesut film, kita harus membahas lebih jauh mengenai medium yang dipilih, yaitu film.
Film, seperti medium lainnya, memiliki keunggulan dan keterbatasannya sendiri. Ambil contoh trilogi Lord of The Rings yang diangkat dari sekian buku tebal—amat tebal malah—apakah berhasil meliputi semua kisah dalam bukunya ke dalam film yang durasinya amat terbatas? Setahuku sama sekali tidak. Sang sutradara harus memilih dan memilah mana yang harus dimasukkan ke dalam film, mana yang terpaksa dihilangkan atau hanya diberi fokus sekedarnya saja.
Mereka yang paham mengenai film pasti paham bahwa tidak mungkin memasukkan seluruh topik yang ada dari tema umum yang dipilih ke dalam satu medium saja.
Untuk berbicara mengenai tragedi 1965 sebagai tema utama, kita bisa mendapati poin-poin yang ada: (1) Sejarah PKI, karena tanpa pemahaman mengenai siapa dan bagaimana sejarah PKI maka publik tak akan dapat berpaling dari ide tunggal hasil kampanye Nugroho Notosusanto; (2) Pemahaman mengenai sejarah Indonesia secara umum dan keterkaitannya dengan sejarah global dinamika pasca Perang Dunia II, karena dengannya kita akan dapat memahami konteks anti-komunisme yang hadir, penetrasi CIA dan kaitannya dengan sejarah Orde Baru; (3) Dinamika sejarah di tengah kekusutan Revolusi Kemerdekaan Indonesia yang membuat kita akan memahami konflik yang tumbuh antara kubu muslim dan kaum komunis; (4) Wawancara dengan korban yang masih hidup; (5) Wawancara dengan pelaku, karena dua poin terakhir dapat meluaskan wawasan psikologis mengenai pemahaman yang lebih mendalam tentang mengapa tragedi bisa terjadi dan meluas sedemikian cepat. Itu saja baru sebagian saja yang kupaparkan, poin-poin lainnya yang masih berderet-deret dan tak bisa begitu saja disederhanakan jadi hanya sekedar urusan konflik politik papan atas.
Pertanyaanku kini: bisakah kita memberi fokus pada seluruh poin-poin yang kusebutkan di atas—itupun masih banyak yang tak kusebutkan—hanya dalam satu film saja? Lebih parahnya lagi, para kritikus ini hanya menginginkan satu topik—yang tentu saja topik yang mereka inginkan. Hanya satu dan harus ada dalam setiap bahasan.
Coba kita bandingkan dengan medium lain, yaitu buku, karena buku dapat memuat pendalaman tema lebih baik dibandingkan film.
Perhatikan buku karya Ruth McVey yang membahas mengenai sejarah PKI hingga pemberontakan mereka melawan kekuasaan kolonial di tahun 1926. Itu saja sudah setebal nyaris 5 centimeter atau setebal buku pertama dari saga Lord of The Rings. Lalu lihat buku-buku lain yang membahas soal poin-poin yang kupaparkan di atas. Setebal apa nanti buku yang ada kalau semua dirangkum di satu buku? Aku yakin tingginya saja akan lebih dari satu meter apabila buku-buku dengan berbagai fokus dalam satu topik tersebut ditumpuk menjadi satu. Itu belum apabila aku memasukkan juga buku-buku mengenai apa itu komunisme.
Mau setinggi apa ketebalannya? Dan kalau sudah sedemikian tebal yang tak terkira itu, siapa yang mau baca?
Kini kembali pada medium film. Dengan paparan singkatku di atas, mau berapa jam durasi film yang bisa meliputi semua aspek? Kalau dibuat film serial televisi, mau berapa episode? Mau berapa musim? Berapa dana yang tersedia untuk menyusun serial tersebut?
Kritik selanjutnya juga dapat dianggap seperti kentut saja, karena mereka jelas-jelas buta medium.
Tapi ternyata mereka punya poin kritik lain, para kritikus tersebut bersikukuh bahwa film Joshua dapat menghambat proses rekonsiliasi dan terbukanya tragedi 1965 dengan baik oleh pemerintah Indonesia.
Soal ini, sungguh, kecemasan tersebut malah lebih mirip paranoia kubu para kritikus tersebut. Kapitalisme yang konon sedemikian dimusuhi oleh kubu kritikus itu saja mampu menyerap apapun dan menggunakannya untuk memerkuat diri, betapa menyedihkan kubu kritikus ini jadinya. Kemiskinan makin menyeruak di mana kemiskinan hidup kubu tersebut hanya semakin jelas hari demi hari seturut komentar nan intelek yang mereka sering lontarkan. Dulu kupikir mereka ini, kubu radikal, adalah mereka yang benar-benar progresif. Ternyata malah sebaliknya, mereka adalah orang-orang paling konservatif yang pernah kutemui.
Perhatikan, berapa film yang telah diproduksi dan beredar dengan mengangkat topik tragedi 1965, baik dari pihak pro-pelaku maupun yang pro-korban, yang tentu harus memasukkan juga film terpopuler Pengkhianatan G-30-S PKI yang menjadi tontonan wajib kala kita dulu duduk di Sekolah Dasar? Shadow Play? Ada lagi? Silakan paparkan. Lantas pertanyakan hal selanjutnya, mana saja film yang berhasil menarik perhatian publik?
Setahuku hanya film wajib itu dan film besutan Joshua saja. Sementara Shadow Play hanya laris di kalangan aktivis, yang tentu amat sangat dikit persentasenya kalau kita bicara rating. Dan di alam demokrasi, bukankah apapun diukur berdasar rating? Rekonsiliasi juga akan tercapai apabila mayoritas memutuskan untuk bersedia melakukan rekonsiliasi, itu mengapa grup-grup yang mengangkat isu-isu spesifik selalu memiliki program kampanye, karena mereka sadar betul akan pentingnya rating. Hal ini semestinya sudah dipahami dengan baik oleh para kritikus tersebut, yang mana sepanjang pengetahuanku, di waktu senggang mereka, mereka selalu menggembar-gemborkan pentingnya demokrasi.
Lagipula saat kita berbicara mengenai rekonsiliasi, bukankah kita seharusnya tidak sekedar menuntut pihak yang kini dituding bersalah untuk mengakui kesalahan, di mana para pelaku bisa dihukum seperti kasus Nuremberg, melainkan juga menyadari bahwa potensi kejadian serupa bisa terulang saat kita tak sadar bahwa tiap-tiap diri kita bisa berubah menjadi monster saat ada di situasi yang tepat? Ataukah kita terlalu suci untuk mengakui adanya sisi gelap ini dalam diri kita, sehingga film besutan Joshua sedemikian tidak bergunanya untuk mendorong proses rekonsiliasi?
Apa arti rekonsiliasi bagi mereka? Penghukuman pihak yang dianggap bersalah? Hanya itu? Tanpa melihat bagaimana tragedi serupa jangan sampai terulang dan apa saja hal yang berpotensi dapat membuatnya terulang?
Rekonsiliasi, bagiku bukan balas dendam. Sama sekali bukan. Balas dendam hanya akan memerpanjang konflik yang tak kunjung selesai dan darah yang tertumpah. Tapi rekonsiliasi juga bukan sekedar memaafkan, apabila memang memaafkan itu adalah hal sulit, melainkan menerima, membuka diri. Karena apa yang lebih penting adalah berbicara mengenai bagaimana cara agar tragedi tersebut tidak terulang.
Para pelaku kini telah renta dimakan usia, apakah engkau ingin menghukum mereka satu persatu?
Aku tidak.
Pengakuan bersalah itu penting, meminta maaf juga penting, pembersihan nama baik dan status kewarganegaraan korban tragedi 65 juga penting, tapi aku berkata tidak pada balas dendam. Tidak penghukuman yang hanya dilandaskan pada pemenuhan hasrat pembalasan.
Dan hanya karena aku berkata aku tidak, jangan katakan aku tidak kenal dengan para korban dari tragedi 1965 yang masih hidup. Sekian tahun aku berkenalan dan berbagi kisah dengan mereka, terutama saat aku masih di hidup di Bandung. Jangan katakan aku tidak kenal dengan para tentara yang anti-komunis. Pamanku sendiri, salah satu dari saudaraku yang kukenal sebagai orang-orang baik, adalah salah satu personel militer yang dikirim untuk melakukan pembersihan sisa-sisa PKI di Blitar. Aku merasa beruntung mendengar berbagai kisah dari tuturan tangan pertama dan merasa amat bersyukur bisa mendengarnya dari berbagai sudut pandang yang menghindarkanku dari sikap penghakiman, merasa diri paling benar, merasa satu pihak absolut benar dan pihak lain absolut salah.
Mungkin sebagian kritikus juga mengalami keberuntungan untuk mendengar dari dua pihak, tapi jangan samakan aku dengan barisan para kritikus, yang menghabiskan waktu dengan mengritisi dan menggapai popularitas diri. Karena bagiku, apabila engkau memang benar-benar menginginkan rekonsiliasi, bukankah lebih baik apabila engkau memanfaatkan medium apapun yang ada, memanfaatkannya untuk menggapai tujuanmu. Diskusi terbuka antara pihak yang bertentangan seputar kasus 1965, yang diadakan di markas Pemuda Pancasila, belum lama ini saja digelar dan membahas mengenai film Senyap. Apakah pernah hal tersebut terjadi sebelumnya di Indonesia? Bukankah karenanya jelas, bahwa medium apapun bisa dimanfaatkan apabila kita jeli dan mau belajar menahan diri untuk tidak terlalu cepat melontarkan kritik?
Aku tidak membela Joshua di sini. Aku juga tidak melarang orang untuk memiliki pendapatnya sendiri, tetapi jujur, para kritikus dari kubu kritikus yang mana kritiknya seragam ini makin hari makin membuatku muak dengan koar-koarnya. Biarkan Joshua membela diri apabila memang ia bersedia. Kalaupun tidak, itu juga bukan urusanku. Karena poinku adalah, tidak bisakah kita memanfaatkan medium yang ada untuk kepentingan kita, dibanding hanya mengritisi tanpa klarifikasi? Kalau tidak suka satu film, bisakah kau hadirkan alternatif yang menurutmu lebih baik? Tanpa ajuan alternatif, engkau hanya mirip anak kecil yang merengek-rengek rewel saat keinginannya tidak tercapai. Mungkin para kritikus yang kekanak-kanakkan ini juga hanya perlu dijewer setiap kali rewel.
Lalu, tidak bisa jugakah kita memberi kebebasan memilih topik pada tiap-tiap individu yang ingin berkarya? Ataukah kita sudah ketularan virus totalitarianisme di mana karya yang boleh beredar hanyalah karya yang memenuhi hasrat pihak dominan? Virus seperti itu tidak hanya hadir kala sebuah kubu menjadi pihak dominan, tetapi deteksi dini virus seperti itu hanya memerlihatkan bahwa virus itu sesungguhnya sudah hadir di banyak kubu yang kini bukan dominan, bahkan marginal. Dalam kondisi seperti ini, bukankah sesungguhnya penting jadinya untuk memahami bahwa kita semua memiliki sisi gelap? Karena nyaris dari kita semua mengidap virus yang sama tetapi sayangnya hanya sebagian yang bisa mengendalikannya. Atau minimal menerima dan berusaha memahaminya.
Terakhir, Joshua Oppenheimer bukanlah warga negara Indonesia. Bukan ia seharusnya yang bertanggung jawab untuk mengurusi luka sejarah di Indonesia, melainkan kita yang memiliki KTP Indonesia dan merasa bahwa inilah tanah tempat kita lahir dan hidup. Kalau Joshua mendedikasikan waktu, energi serta biaya sedemikian besar dan lama untuk membuka sebagian dari sejarah Indonesia, bukankah seharusnya yang kita lakukan adalah bercermin dan bertanya: apa yang sudah kita lakukan?
Sekedar mencoblos pada Pemilu? Atau sekedar mengritik melalui media sosial?
Akhir kata, bagiku semua koar-koar para kritikus ini jadi tidak valid dan layak dianggap gonggongan anjing pudel rumahan belaka. Tak lebih.

Apa Yang Saya Bicarakan Ketika Saya Berbicara Mengenai "Je Suis Charlie" atau "Je Ne Suis Pas Charlie"


Apa yang terjadi pada para wartawan dan staff Charlie Hebdo kemarin ialah peristiwa yang menyedihkan, tentu saja. Yang terbayang di pikiran saya ialah bagaimana jika saat saya berada di sebuah kantor lantas datanglah orang-orang yang menembaki saya dan beberapa teman saya. Tentu saja pihak keluarga, teman dan para kerabat kami akan terpukul dengan kepergian saya.

Namun setiap pekerjaan memiliki resikonya sendiri.

Seorang pekerja kantoran pun bisa tewas akibat stress yang berlebihan dan berujung kepada penyakit macam diabetes, hipertensi, stroke dan serangan jantung.

Mungkin yang mengejutkan bagi kenyatataan yang kita bangun setiap harinya, ialah bagaimana bisa di sebuah negara maju seperti Perancis, wartawan dan staff sebuah media kartun yang kebebasan berpendapatnya dijamin oleh hukum, harus mengakhiri perjalanan hidupnya lewat berondongan peluru? 

Dalam benak saya hal tersebut bagaikan menonton film kartun. Bugs Bunny seolah-olah ditakdirkan dengan kecerdasan dan kejenakaannya hadir dalam adegan kartun untuk menjahili Yosemite Sam. Sementara Yosemite Sam seolah-olah ditakdirkan dengan kebrutalan dan sikap piciknya untuk membuat kapok Bugs Bunny. Kita biasanya menebak bahwa cerita tersebut berakhir dengan kemenangan Bugs Bunny dan menyerahnya Yosemite Sam. Tapi bagaimana jika ternyata Bugs Bunny mati terkena berondongan revolver Yosemite Sam?

Berbicara mengenai kebebasan pers di Perancis, Koran "Rouge" yang dibentuk oleh Jeunesse Communiste Revolutionaire (Revolusioner Muda Komunis) dibredel pada 1968, di tengah gelombang aksi unjuk rasa di Perancis. Maka kebebasan berbicara ataupun kebebasan pers bukanlah sebuah budaya yang muncul tiba-tiba dan serta merta abadi. Ia bukan tanpa kecacatan di Perancis -sejak jaman Revolusi Perancis- dan juga di belahan Eropa lainnya, dimana kasus-kasus pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat dan kebebasan pers acapkali terjadi. Radio Television of Serbia misalnya, pernah dibom oleh Pasukan Koalisi pada 23 April 1999 karena dianggap menyiarkan berita propaganda selama Perang Kosovo. Namun mengapa seolah-olah semua pihak menganggap bahwa sosok Eropa ialah sosok yang selalu mengedepankan kebebasan?

Eurosentrisme ialah sebuah istilah yang dipakai oleh Samir Amin -seorang Ekonom Marxist dari Mesir- untuk menunjukkan sebuah fenomena, dimana "Eropa" ialah sebuah konstruksi cara pandang kebudayaan dan peradaban yang menyamarkan dirinya sebagai sebuah nilai yang universal. Samir Amin berpendapat bahwa melalui masa kolonialisme modern, yang memunculkan negara-negara Eropa sebagai penguasa kolonial, maka pada akhirnya mereka sampai pada sebuah paham bahwa mereka adalah sebuah kesatuan peradaban yang unggul, yang dibangun di atas sebuah pondasi mistikal, bahwa bangsa dan kebudayaan Eropa lebih unggul dibandingkan bangsa dan kebudayaan lainnya. Samir Amin menyatakan bahwa justru kelemahan dari moda produksi Eropa dalam sistem feodalisme yang berkembang disanalah yang mendorong bangsa-bangsa Eropa keluar dari sarangnya lantas menghadirkan kolonialisme, kapitalisme dan dominasi global di belahan dunia lainnya.

Para aktivis, kaum progresif dan Übermensch, mereka yang merasa lebih tercerahkan dari sesamanya berbicara mengenai betapa cintanya mereka akan nilai-nilai kebebasan bagi umat manusia. Mereka yang mencintaimu ialah mereka yang paling mungkin menyakitimu, ialah sebuah kepercayaan yang saya pegang.

Mungkin juga kita harus memisahkan apa itu cinta dengan apa yang dinamakan keterikatan. Dimana seorang yang mengaku dimabuk cinta tidak bisa lepas dari apa yang ia cintai. Semakin hari ia semakin asing dengan dirinya sendiri, tidak mampu menjadi dirinya tanpa sosok yang ia cintai. Selalu ada kecanduan dalam keterikatan. Selalu ada keterasingan dalam kecanduan. Bagaikan seorang alkoholik akut yang tidak lagi menikmati sensasi kemabukan, karena setiap saat dari hidupnya ialah sebuah bentuk kemabukan dan apabila ia tidak mabuk maka dunia ini nampak kejam dan bengis baginya, sang pecinta terus menerus menekan garis batasnya akan konsumsi cinta, kecanduan yang ia alami memaksanya untuk lebih banyak mengkonsumsi, semakin banyak ia mengkonsumsi semakin asing juga ia dengan cintanya tersebut, semakin berkurang kebahagiaan dan kesenangan yang ia rasakan.

Kita seringkali mendengar ucapan naif bahwa seseorang yang dimabuk cinta, menerima cinta dari sosok manusia lainnya, karena ia ingin mempertahankan kebaikan yang ada pada dirinya atau mengubah keburukan yang ada pada pihak yang ia cintai.

"Gue suka sama dia, dan berharap dia juga mau berubah ke arah yang lebih baik" begitu kira-kira tipikal curhat yang biasa saya dengar. Perlahan-lahan cinta yang ada seakan menjadi rangkaian tuntutan. Si A menuntut si B untuk jadi C dan si B menuntut si A untuk jadi si D. Pada akhirnya, mereka sama-sama asing dan terasing dan terpaksa menjalani keterikatan.

Tidak ada sensasi disini, yang ada ialah rutinitas dan kewajiban.

Para wartawan dan staff Charlie Hebdo, bisa jadi orang-orang yang dimabuk oleh cinta. Begitupula sosok penembak yang mengakhiri nyawa mereka.

Beberapa kartunis Charlie Hebdo memulai karirnya di majalah Hara Kiri Hebdo dan L'Enrage dan menggabungkan bentuk kritik sosial dengan satirisme kartun. Hara Kiri Hebdo sempat dibredel pada 1961, 1966 dan 1970. Pada pembredelan yang terakhir Hara Kiri Hebdo menjelma sebagai Charlie Hebdo.

Mungkinkah penggambaran satir yang dilakukan oleh kartunis Charlie Hebdo ialah semacam kecanduan yang melekat?

Bisa jadi justru selama ini konsep kritik sosial dan satirisme kartun ialah hal yang justru paling membelenggu mereka. Sehingga ambang batas antara kejenakaan dan resiko, untuk mendapatkan sensasi dan kepuasan makin lama semakin tipis dan pada puncaknya: over dosis.

Seolah-olah mereka yang bekerja di Charlie Hebdo bukan apa-apa tanpa semboyan kegiatan yang mereka lakukan sehari-hari di dalam Charlie Hebdo. Dan kesenangan yang mereka dapatkan dari rutinitas mereka tersebut amat rapuh oleh kebiadaban manusia lainnya (atau katakanlah: kaum barbar).

Para jihadis di Eropa, yang diduga kuat menjadi sosok dari pelaku penembakan pun biasanya mengidap kegagapan cinta yang serupa.  Berulangkali kita mendengar bahwa kaum Jihadis ini bukanlah muslim yang taat atau dapat mengerti dan menterjemahkan ajaran Islam dengan baik, bahkan acapkali mereka lalai dalam melakukan kewajiban-kewajiban ibadahnya.

Namun mereka harus memilih antara dua cinta.

Gagal diterima sebagai bagian dari komunitas yang menjanjikan Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan, mereka segera mengalihkan cintanya pada nilai-nilai yang menawarkan identitas bagi mereka, di tengah rasa penuh keterasingan. Sebuah cinta baru yang akan menghapus luka pada cinta yang lama.

Maka sampailah kita pada sebuah kisah yang hampir serupa dengan kisah petualangan cinta HA dan AS yang memutuskan untuk sepakat mengakhiri nyawa SA, mantan kekasih HA, dengan begitu cinta HA kepada AS akan terikat oleh sebuah sensasi baru yang mengubur sensasi yang lama.

Semua orang lantas bergairah untuk berbicara mengenai kasus ini. Seolah-olah kasus ini ialah sebuah tragedi besar umat manusia. Seolah-olah manusia ditakdirkan untuk saling mencintai. Seolah-olah sejarah manusia yang dipenuhi bangkai dan darah ialah kondisi yang tidak pernah ada.

Seorang kawan pernah berujar pada saya, bahwa semua manusia pada dasarnya ialah pembunuh dan pelacur. Satu-satunya hal yang menghalangi kita semua berubah menjadi pembunuh dan pelacur adalah tanggung jawab dan rasa bersalah yang dibebankan kepada kita oleh manusia lainnya.

Apabila kita dapat memberikan kekuasaan kepada beberapa orang secara acak untuk melakukan kekerasan terhadap orang lainnya, selama mereka bebas dari rasa tanggung jawab, keamanan mereka terjamin serta tidak perlu merasa bersalah, ia akan menjadi mesin pembunuh dan penyiksa.

Dengan alasan yang sama, Charlie Hebdo dengan klaimnya atas sekularisme dan kebebasan berpendapat serta para penembaknya dengan klaimnya atas kesucian dan kemurnian agama, melakukan hal yang serupa. Semuanya hanya orang biasa, yang bisa marah dan pada titik tertentu mampu membunuh. Kalau sang pembunuh yang diduga ialah bagian dari kelompok jihadis dalam melancarkan aksinya memilih AK-47 dibandingkan pensil 2B, itu karena memang mereka menguasai taktik tersebut.

Pendeknya, mereka menggambar kartun atau memberondong peluru, karena hal tersebut memang hal yang mereka bisa lakukan. Dan kalaupun kita bisa memilih untuk mengutuk dan membela atau pun diam, memang cuma hal tersebut yang kita bisa lakukan sebagai reaksi atas hal tersebut.

Tidak lebih. Sementara itu, saya pun tidak tahu mana yang lebih menyedihkan diantara semuanya.

Jumat, 05 Desember 2014

Tentang Bau Tubuh

* * *
Oh, don’t be so fussy. Your body, after all, what is it? Just a physical covering, that’s all. Worth, chemically, 32 cents --Sidney Buchman
Sewaktu masih kuliah di Indonesia, saya menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang Papua mengalami diskriminasi karena bau tubuh yang mereka miliki. Para pemuja parfum tentu saja enggan duduk di samping orang-orang Papua. Mereka yang terobsesi dengan standar kecantikan ala media, tentu tidak ingin membiarkan citra kesempurnaan yang diskriminatif itu runtuh karena berada dekat dengan orang Papua.

Saya justru sebaliknya. Sering menemukan rasa nyaman di tengah bau-bau alami tubuh manusia. Tak peduli siapa dan dari ras apa.

* * *

Novelis dan aktivis pecinta lingkungan Amerika, Peter Mathiessen, yang dulu sempat dibicarakan oleh dosenku di sela-sela kuliahnya, pernah berkata—mengkuotasi perkataan seorang saksi dalam persidangan kontrol-polusi beberapa dekade lalu—bahwa manusia adalah binatang terkotor yang pernah menginjakkan kaki di atas bumi.

Aku tidak tahu pasti apa yang mendasari ucapan seorang saksi tersebut yang terkesan terlalu meng-over generalized

Aku menyadari sentimen mereka para aktivis-aktivis pecinta lingkungan, terhadap ulah manusia yang kelihatannya hanya bisa mendegradasi dan mengeksploitasi kekayaan bumi sampai ke dalam tahap yang benar-benar memprihatinkan. Tetapi aku pikir, pernyataan ini mempunyai kebenaran yang jauh lebih dekat dan lebih relevan, tanpa tentu saja mengabaikan pentingnya kelestarian lingkungan seperti apa yang mereka para aktivis-aktivis lingkungan perjuangkan. Hanya saja, aku tidak ingin membicarakan masalah itu disini.

Kita sebagai manusia, yang hidup di era modern ini, seringnya hanya bisa menutupi, dan menangkal seberapa kotor dan ketidak higienisan diri kita dengan menggunakan sabun, sikat gigi, deodoran, parfum, dan sebagainya.

Kita menolak untuk menyadari bahwa kita pada dasarnya adalah memang makhluk yang—seperti banyak makhluk-makhluk hidup lainnya—menghasilkan cairan dan kotoran beracun dari dalam tubuh untuk segera dibuang agar tidak menumpuk dan meracuni tubuh kita sendiri. Rasa malu yang kita rasakan ketika kita menyadari bahwa tubuh kita menghasilkan odor tidak sedap itu datang, ketika ide atau etiket bahwa “menghasilkan bau di depan orang banyak itu adalah hal yang memalukan dan tidak seronoh” telah ditanam sejak kita pertama kali hadir dan membaur dalam ruang lingkup kehidupan sosial dalam bermasyarakat. Dampaknya, kita pun juga telah berubah menjadi individu yang terbagi menjadi dua; bahwa kita melihat diri kita sendiri hanya sebatas bagaimana kita melihat diri kita dari kacamata dan pengamatan orang lain, dan kita tidak bisa melihat lebih jauh dari itu.

Dunia kini telah berubah menjadi hanya sekedar apa yang tampak, dan produk-produk yang mengatasnamakan higienitas terus merauk profit menjual imaji.

Dalam budaya-budaya lain di beberapa bagian dunia, seperti suku Ongee di pulau Andaman, kepulauan Laut India, bau badan, alih-alih dijadikan sebagai hal yang sifatnya musti dihilangkan dan di tutup-tutupi, dijadikan sebagai faktor penentu dalam kehidupan sosial.

Bagi suku Ongee, alam semesta dan segala isinya didefinisikan oleh bau. Kalender mereka dibangun atas dasar bau bunga yang mulai mekar pada waktu yang berbeda di setiap tahun. Setiap musim dinamai dengan bau tertentu, dan memiliki ciri khas dan ‘kekuatan aroma’ nya sendiri. Identitas pribadi juga didefinisikan oleh bau.

Untuk menyebut dan memperkenalkan dirinya sendiri, suku Ongee menyentuh ujung hidungnya sendiri, gestur dan sikap yang menunjukkan ‘aku’ dan ‘bau-badanku’. Ketika menyapa seseorang, suku Ongee tidak bertanya ‘Apa kabar?’, tetapi‘Konyuneonorange-tanka?’ yang juga berarti ‘Bagaimana hidungmu?’. 

Etiket seperti  ini mensyaratkan bahwa jika orang tersebut menjawab dia merasa ‘penuh dengan bau’, ia yang menyapa, sudah sepantasnya menarik nafas dalam-dalam untuk menghapus dan menghilangkan aroma yang berlebih. Jika orang yang disambut merasa sedikit kekurangan energi dan bau, adalah sopan bagi si penyapa untuk memberikan sedikit aroma tubuhnya dengan meniup menghembuskan nafas kearahnya.

Suku Bororo di Brazil, atau Serere Ndut di Senegal pun melakukan hal yang sama. Mereka mengidentifikasi identitas personal melalui bau badan. Tetapi bagi suku Bororo, bau itu dibedakan menjadi dua sumber kekuatan yang berbeda. Kekuatan kehidupan selalu di identikkan dengan bau badan, sedangkan kekuatan jiwa, datangnya dari bau mulut.

Di India, sapaan tradisional yang penuh kasih sayang—yang bisa juga disamakan dengan salam peluk dalam budaya barat—adalah dengan mencium dan mengendus kepala orang yang disapa. Gestur ini dapat diketahui dan di temui di dalam teks kuno budaya India, dengan perkataan yang kurang lebih menyatakan: “I will smell thee on the head, that is the greatest sign of tender love”.

Aku tahu apa yang ada di pikiran kebanyakan orang ketika mengetahui fakta-fakta tersebut. Mereka akan mengira bahwa itu adalah merupakan hal yang menjijikan dan menggelikan. Bagaimana bisa kita manusia yang hidup di era seperti ini, dimana peradaban sudah kian maju, melakukan hal seperti itu? Aku sendiri tidak akan menyangkal bahwa aku pun tidak akan mau bertindak sejauh itu untuk membuktikan poin ku. Tetapi yang bisa dilihat disini adalah, bahwa konsep sebuah bau itu berbeda pengaplikasiannya di dalam setiap kehidupan bermasyarakat di berbagai belahan dunia.

Bagi kita yang hidup di sini, dengan peradaban yang sudah jauh lebih maju, bau mungkin adalah merupakan sesuatu hal yang sifatnya tabu. Atau paling tidak, kita dibuat untuk selalu berpikir seperti itu. Tetapi bagi budaya mereka-mereka yang masih menjunjung tinggi indera penciuman mereka sendiri, bau adalah merupakan hal yang bersifat integral dalam kehidupan keseharian mereka, dan yang dapat menentukan jalannya stabilitas sosial. Dan dengan kata lain, dengannya kita juga bisa mengambil kesimpulan bahwa segala konsepsi yang kita ketahui mengenai bau, itu adalah temuan, sebuah konstruksi sosial.

* * *

Aku memperhatikan lelaki ini di hadapanku. Aroma yang datangnya dari bau badannya itu masih saja tercium di ujung hidungku, yang mungkin kini telah menyelimuti seisi bus. Aku membuka sedikit jendela yang terletak di sebelahku, agar angin terus berputar dan agar aroma itu tidak lalu terus hinggap di depan hidungku. Lelaki itu sepertinya sama sekali tidak menyadari bau yang dihasilkan dari badannya sendiri.

Aku memang mengetahui bahwa kita seringkali tidak menyadari bau badan kita sendiri, karena sensor indera penciuman kita, ketika terus diberikan penciuman yang sama, akan lalu menjadi terbiasa. Maka dari itu, ketidak acuhannya adalah bukan merupakan kesalahannya sepenuhnya.

Tanpa aku menyadari, perhatianku kini justru tertuju kepada ekspresi orang-orang di sekitarnya.

Seorang bapak yang duduk tepat di sebelahnya mulai mengeluarkan gestur tidak nyaman, ia mengesampingkan badannya dan sesekali menutup hidungnya dengan sapu tangan yang ia ambil di saku bajunya. Lalu ada seorang lelaki muda dengan kaos kuning yang duduk di sebelahku, yang kuperkirakan adalah seorang pegawai kantoran yang baru saja pulang dari kerja lemburnya. Ia seringkali berusaha untuk tertidur, menundukkan kepalanya seraya sesekali menyeka hidungnya. Nampaknya bau ini terlalu menyengat bagi indera penciumannya, ia sama sekali tidak bisa tertidur sepanjang perjalanan. Ia acapkali melirik sinis ke arah lelaki itu, yang kini sedang tertidur, dengan tatapan terganggu. Aku bisa memastikan kini bahwa bus ini telah dipenuhi dengan orang-orang  yang terganggu dengan keberadaan satu orang saja.

Aku berbohong jika aku mengatakan bahwa aku sama sekali tidak merasa terganggu. Tentu saja aku merasa terganggu. 

Tetapi aku sudah terlalu lelah untuk hanya sekedar mengeluh dan menghardik. Mungkin aku akan terdengar seperti seorang fetishist ketika aku mengatakan hal ini, tetapi aku memang merasa justru lama kelamaan, malah menikmatinya. Bau ini jauh lebih manusiawi, lebih definitif, dan deskriptif ketimbang bau-bau parfum dengan tagline yang seringkali mengumbar keunikan identitas, dan yang seringkali dapat kucium di tempat-tempat termewah dimanapun. Aku bisa dengan sekejap merasakan dan membayangkan bagaimana lelaki ini melewati hari-harinya, hanya dengan mencium aroma tubuhnya. Bisa kau bayangkan itu?

Kini aku bisa mengerti mengapa mereka orang-orang dari suku Ongee begitu menjunjung tinggi indera penciuman mereka.

Dunia selalu dipenuhi oleh berbagai macam bau. Keindahannya dapat terpatri ke dalam indera penciuman kita. Bau badan yang dihasilkan oleh manusia adalah merupakan salah satu contoh bentuk pernyataan identitas yang paling faktual.

Kita sudah terlalu banyak dan terlalu sering disuguhi oleh wangi-wangian parfum, sehingga kita melupakan bagaimana seharusnya kita berusaha untuk menerima keberadaan manusia lain dengan mencium aroma tubuh mereka, bukan lalu memberikan kesan ilusif dengan wewangian yang mengarahkan kita semakin jauh dari apa dan siapa sebenarnya diri kita.

Aku tidak mengatakan bahwa kita sebaiknya mengumbar bau badan kita di depan orang banyak, dan melupakan bahwa higienitas adalah hal penting. Higienitas itu tetap adalah merupakan prioritas nomor satu, agar kita terhindar dari berbagai kuman dan penyakit. Yang menurutku musti kita hindari di sini adalah pola dan kebiasaan borjuistik kita dalam menanggapi bebauan-bebauan tersebut yang datangnya dari tubuh kita sendiri, atau tubuh orang lain.

Banyak orang seringkali menjadi prejudis dan kasar terhadap orang-orang yang mempunyai bau badan yang tidak sedap. Tetapi apakah mereka juga menyadari bahwa mereka juga sama baunya dan sama kotornya dengan orang yang terus mereka tuding? Bahwa wangi yang memancar dari tubuh-tubuh mereka pun hanya sebatas citra, pengalih dari apa yang sebenarnya selalu mereka coba untuk tutup-tutupi?

Jumat, 26 September 2014

Tentang Harga


Valuta. Pertukaran.

Di mana saja. Masyarakat apa saja. Komunitas apa saja. Bahkan di kalangan kelompok anak-anak muda yang tampaknya ‘serba bebas dan gratis’, bahkan juga di tengah kelompok gelandangan atau pengamen di lampu merah. Semua memiliki valutanya sendiri.

Engkau membayar untuk mendapatkan tempatmu, betul? Begitulah cara sekelompok manusia bekerja -entah kelompok kecil terdiri dari lima orang ataupun sebuah kota yang terdiri dari ribuan orang. Mungkin dengan cara membayar pajak, atau melakukan kerja sosial, atau sekedar berbagi tugas-tugas harian -apapun. Apapun. Entah itu masyarakat modern, komune anarkis, atau bahkan komune primitif. Tidak ada hidup yang gratis. Semua memiliki valutanya sendiri.

Di negeri ini, di bawah sistem seperti ini, kita dipajaki. Untuk berbicara yang lebih kecil, seperti tingkatan ketetanggaan tradisional misalnya, kita harus turut bekerja bakti, ikut andil ambil bagian dari pembagian ronda, ikut menyumbang sekedarnya untuk acara-acara kecil seperti 17 Agustus-an. Sesuai pengalamanku juga, untuk bentuk sosial yang lebih kecil lagi, yaitu tinggal bersama di bawah satu atap bersama beberapa orang lain, semua berjalan sama saja: kita memiliki valuta.

Kita selalu memiliki valuta. Bentuknya saja yang berbeda-beda. Dalam skala sebesar dunia dan negara, kita menggunakan bentuk uang. Dalam skala kecil dalam satu rumah, valutanya adalah kerjasama. Engkau tidak bekerjasama, artinya hanya tinggal tunggu waktu saja sampai semua orang menjauhimu dan dalam titik ekstrimnya, memintamu pergi.

Semua orang. Setiap orang. Memainkan perannya. Ada pertukaran yang selalu terjadi.

Ide-ide dunia gratis, sebagaimana yang digembar-gemborkan para anarkis seperti CrimethInc. sesungguhnya hanyalah sebuah diskursus puitis, bukanlah sesuatu yang seharusnya ditelan secara harfiah. Persis seperti apa yang terjadi dengan slogan “Never Work” yang dikumandangkan gerombolan Situationist International. Guy Debord menerima ‘sumbangan’ tetap dari Asger Jorn, sementara Michelle Bernstein menjadi pengisi kolom horoskop di sebuah media lokal. Bahkan John Zerzan menjual darahnya untuk bisa terus menyambung hidup atau membeli makan. Karl Marx mendapat ‘sumbangan’ tetap dari Engels. Brian Dingleding menjual CD dan merchandise untuk bisa terus menerima pasokan dana. Untuk menyiasati semua hal tersebut dan agar dapat menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran, mereka semua rata-rata tidak menikah dan memiliki anak serta hidup berpindah-pindah. Seperti Arthur Rimbaud. Seperti Isabelle Eberhardt.

Bahkan Henry Miller-pun membayar. Ia menulis buku, menerima royalti darinya, menjual lukisan cat airnya. Kini anak-anak cucunya terus menerima royalti dari seluruh penjualan buku-bukunya bahkan setelah ia wafat. Bahkan kepala mafia-pun harus mampu mempertahankan kekuasaannya agar mampu mendapatkan sesuatu atau ia akan disingkirkan. Artinya, bahkan seorang Don Corleone-pun membayar. Mereka yang menolak total terlibat dalam pertukaran menggunakan uang, memilih hidup berjarak, sejauh mungkin, dari peradaban dan masyarakat besar. Seperti Ted Kaczynski yang memilih hidup seorang diri, berburu kelinci dan membangun pondok dari kayu di tengah hutan. Ada harga yang ia ambil. Ia bayar.

Beberapa dari kita bekerja. Beberapa dari kita menjadi ketua geng. Beberapa dari kita menjual kaos dan rekaman. Beberapa menjual citra kemiskinan atau citra radikal. Tak ada benar dan tak ada salah dalam soal ini. Kita semua hanya membayar sesuatu karena tak ada hidup yang gratis. Kita semua menukarkan sesuatu. Semua memiliki peran dan memainkan perannya. Ketua geng mempertahankan kekuasaannya dan menerima upeti dari orang-orang yang hidup dalam areanya, seorang radikal menjual citra kemiskinan dan pemberontakan agar mendapat pasokan uang yang stabil. Di luar itu semua, selain anak-anak kecil yang beruntung sehingga bebas dari valuta, tak lebih dari anak-anak manja yang merengek, menangis dan lebih cocok kembali ke pelukan hangat, gratis, dari ibunya.

Dunia ini, bagaimana alam ini berjalan, telah beroperasi jauh lebih lama dariku. Sejauh yang kuketahui hal ini sudah berjalan sejak awal. Saat Adam dan Hawa menolak membayar berupa kepatuhan terhadap Tuhan, mereka disingkirkan dari surga. Semua memiliki valuta. Tak ada yang membicarakan hal ini. Tak ada yang mengajukan protes selain sekelompok anak-anak manja. Setiap orang mengambil perannya. Tak ada hidup yang gratis.

Aku menjual kemampuanku, waktuku, energiku untuk dipertukarkan dengan sejumlah uang yang cukup besar. Bukan. Bukan karena kini aku mengamini dan membenarkan kapitalisme. Bukan karena aku terbius oleh kapitalisme -walaupun kuakui ia memang membius. Bukan. Kapitalisme hingga kini masih menyebalkan sebagaimana sejak awal kelahirannya. Jadi jelas bukan itu. Ada alasan lain. Pertama, orangtuaku tidak memberikanku warisan milyaran rupiah yang memungkinkanku untuk hidup tanpa bekerja. Kedua, karena aku menolak menjual citra radikal atau penderitaan orang lain pada lembaga donor atau pada anarkis-anarkis di Negara Dunia Pertama. Ketiga, karena memang hidup di kawasan urban dan memiliki cukup uang jauh lebih menyenangkan dibandingkan miskin finansial.

Apakah aku harus merasa bersalah atas peran yang kuambil? Haruskah aku malu atas status sosialku? Haruskah aku melakukan lelucon yang telah kehilangan gregetnya, yaitu ‘bunuh diri kelas’? Perlukah aku menjaga citra radikal yang sempat orang-orang sematkan padaku? Jawabanku hanya satu: aku tidak peduli. Hidup ini singkat dan pendek. Terlalu pendek untuk kujalani berdasar penyesalan dan rasa bersalah.

Tak ada hidup yang gratis. Bahkan revolusipun memiliki valutanya sendiri.

Jumat, 29 Agustus 2014

Perbincangan: A.D.D


Perempuan sipit ini berbincang dan terus berbincang melalui Skype. Topik awal yang bertukar pandangan seputar keinginanku untuk menonton Morrissey pada akhirnya hanya memakan waktu sekitar lima belas menit saja; topik berikutnya soal cinta yang biasanya menguras emosi dan berujung pada rasa pilu justru lebih banyak dilewati dengan tawa. Tanpa disadari kami beralih pada satu topik khusus yang saat kulirik arlojiku, kami ternyata telah melewatkan nyaris setengah malam: mengenai relasi spesial manusia terhadap teknologi.

Charles Darwin, dua abad lampau, menyatakan bahwa berdasar penelitiannya sekian lama pada runutan sejarah kehidupan di alam ini, ia menemukan bahwa hanya makhluk yang mampu beradaptasilah yang pada akhirnya akan keluar sebagai ia yang bertahan hidup. Tidak seperti anggapan umum, yang menerjemahkan teori evolusioner Darwin sebagai ia yang kuat yang akan menang. Anggapan itu keliru, Darwin berkata, bukan ia yang kuat melainkan ia yang adaptif. Dan kini kita hidup di era di mana teknologi sebagai sebuah kesatuan sistem yang demikian kompleks, bukan lagi teknologi yang dapat diterjemahkan sebagai sekedar alat. Teknologi telah menentukan alur hidup manusia, bukan sebaliknya—lagi-lagi aku harus berseberangan dengan anggapan umum—yang berarti apabila kita menerapkan teori evolusioner scara sederhana, maka hanya yang adaptif terhadap percepatan teknologilah yang akan berhasil bertahan hidup.

Theodore Kaczynski, seorang profesor matematika, memperingatkan akan hadirnya konsekwensi buruk atas kemelekatan manusia pada teknologi. Demikian juga Bill Joy, seorang programmer komputer terpandang; atau Martin Rees, seorang astronom terkemuka Britania Raya. Atau Freud dan Hokheimer. Bahkan untuk lebih mudah mengidentifikasi dan melengkapi jajaran para skeptis, kusebutkan satu orang yang tentu siapapun kenal: Albert Einstein. Di negara-negara industrial, di mana masyarakatnya telah berhadapan dengan keras dengan teknologi, para psikiater mendeteksi adanya sebuah ‘penyakit’ gaya baru yang berkembang seiring dengan kemelekatan manusia dengan teknologi: A.D.D.

Amat disayangkan apabila di Indonesia ini nyaris tak ada yang menyoroti hal tersebut secara khusus, justru di negeri di mana ide-ide dari luar hadir tanpa landasan material yang kuat, di mana produk-produk material hadir tanpa landasan ide sama sekali. Mungkin belum. Mungkin generasi anak-anak kita nanti yang akan mulai melihat permasalahan ini, karena generasi merekalah yang semenjak membuka matanya pertama kali di dunia, apa yang mereka dapati adalah relasi mesra dengan teknologi. Tapi kegelisahan itu sesungguhnya mulai hadir, sebagaimana yang dialami oleh seorang jurnalis Tempo yang pernah berbincang denganku beberapa saat lalu, beberapa orangtua mulai khawatir. Apabila si kecil mengganti-ganti saluran televisi padahal di saat yang sama ia sedang menonton film, hal tersebut dapat dideteksi sebagai tanda awal Attention Deficit Disorder: ketidakmampuan untuk memberi fokus pada satu hal dengan cukup lama. Epidemi terkini dari abad digital selain menurunnya kemampuan literer yang bersahut-sahutan dengan menipisnya koleksi perbendaharaan kata.

Tapi sebentar, bagaimana apabila justru A.D.D. bukanlah ‘penyakit’ melainkan sebuah kemampuan beradaptasi? Bagaimana apabila kenyataan tersebut justru sebuah mekanisme pertahanan diri di dunia di mana media korporat dan agen-agen pemasarannya selalu berusaha memrogram diri kita kemanapun kita melayangkan pandangan? Di sini billboard iklan, di sana brand korporat, di sini koran, di sana artikel online. ‘Penyakit’ inipun dideteksi hadir dan berkembang di akhir dekade ’90-an, setelah majalah-majalah bisnis komputer semuanya mendeklarasikan bahwa kita telah memasuki sebuah “area ekonomi kini berdasar pada perhatian (attention),” di mana komoditi dipasarkan berdasar “gerak bola mata”. Mereka menggunakan setiap detail data psikologi dan neurologi diri manusia yang mereka punya untuk membuat semua tampilan pemasaran mereka menarik perhatian, menjebak daya ingat, dan semoga juga uang kita.

Jadi mungkin kemampuan untuk tidak memperhatikan—untuk melewatkan pandangan sepintas saja, memikirkan hal lain di saat kita diminta untuk menaruh fokus, terus bergerak dan mudah melupakan—justru adalah sebuah kemampuan yang menakjubkan dari tubuh manusia. Lagipula mengapa obat resep Ritalin dalam catatan resmi kedokteran telah meningkat 4000% dalam 15 tahun terakhir? Itupun hanya yang tercatat. Apabila anak-anak tak mau mengonsumsi iklan dengan sukarela, maka para psikolog pengembang kepribadian, yang mana kita semua tahu untuk siapa mereka sesungguhnya bekerja, akan menyarankan penggunaan obat-obatan.

Perempuan ini terus menerus merokok saat kami berbincang soal teknologi dan A.D.D. padahal dalam topik-topik perbincangan sebelumnya ia hanya menghisap rokoknya satu batang. Gelisah? Entahlah. Tapi yang aku tahu, semenjak Agustus lalu, perubahan yang kusadari dari dirinya adalah bagaimana ia mulai mengonsumsi rokok.

Mungkin generasi di bawah kami tak menyadarinya, karena mereka tak dapat membandingkan pengalaman hidup yang relatif lebih lepas dari teknologi dengan pengalaman hidup di bawah percepatan yang luar biasa. Kami tak mendapat jawaban apapun, sebagaimana perbincangan kadang tak membutuhkan jawaban, selain hanya kemampuan berbagi. Karena perang yang terjadi di benak kita semua dan mekanisme pertahanan diri tubuh kita adalah sesuatu yang nyata, senyata dunia cyber di mana kita semua berada. Mereka berkehendak menduduki wilayah realita kita sebelum kita bisa memiliki kemampuan untuk menjadi otonom walau hanya untuk wilayah satu milimeter persegi saja.

Di akhir perbincangan, arlojiku menunjukkan pukul empat pagi. Aku bertanya, mengapa ia tampak begitu antusias—walaupun gelisah—dengan topik tersebut. Ia hanya tersenyum dan menyibakkan rambutnya yang ia biarkan tumbuh memanjang.

“Saya ingin punya anak, tapi saya terus terang takut dengan kenyataan soal gimana dunia ini jalan,” ujarnya seraya mematikan rokoknya di asbak yang ia letakkan di atas meja di sebelahnya. Mendadak mata sipitnya menatapku tajam, “Jangan coba-coba bilang kalau kamu mau jadi sukarelawan buat nanam benihnya.”


Kami berdua tertawa. Pada akhirnya di penghujung sesi perbincangan ini, kami bisa tertawa lagi. Sesi perbincangan yang mungkin tak akan terjadi lagi setelah akhir minggu ini berakhir.