Senin, 27 Januari 2014

Tentang Tato


Saya punya tato. Beberapa tato. Dan tentu saja, saya bukan satu-satunya di dunia ini yang memiliki tato. Sudah pasti bahwa ada jutaan orang yang memiliki tato di tubuh mereka. Jumlah-nya tak saya ketahui dengan pasti karena sependek pengetahuan ini, belum ada survey resmi tentang jumlah orang yang bertato. Sejauh ini, survey-survey masih diarahkan untuk sekedar menghitung transaksi ekonomi atau politik. Dua item ini adalah mesin utama pendorong kalkulasi massa dilakukan dengan seperangkat tes untuk memprediksi nilai sesuatu dalam skala yang sudah ditentukan sebelumnya.

Nah, kembali lagi ke persoalan tentang tato sebelum kalimat-kalimat saya lebih kacau karena penggunaan terminologi ekonomi dan aljabar.

Sebagai orang bertato, saya tentu saja merasa berbeda dengan orang yang tidak bertato. Perasaan yang sama sewaktu pernah dengan sengaja menghadiri pesta pernikahan kawan dengan sendal jepit dan celana olahraga dan kaos oblong, sementara di sekeliling saya ramai orang berpakaian dengan standar berbeda. Seperti ketika saya memilih menonton turnamen sepakbola antar kampung di dekat tempat saya tinggal ketimbang ikut membantu kawan-kawan lain yang sedang mengorganisir persiapan pentas musik di suatu sore. Tak jauh berbeda ketika di suatu siang saya menolak untuk terlibat acara memasak yang digagas oleh FNB dan memilih mengantarkan seorang teman mengikut seleksi kontes menyanyi populer di salah satu mall. Perasaan berbeda itu adalah satu dari sekian stimulus bagi seseorang -seperti saya- untuk melakukan hal yang tak sama atau bahkan sama sekali bertentangan dengan orang lain.

Buat saya pribadi, merasa berbeda adalah yang alami. Itu natural seperti juga seseorang merasa memiliki kesamaan dengan orang lain, entah itu selera makanan, film yang ditonton, jenis musik yang didengarkan atau hal lain. Kecenderungan untuk mengasosiasikan diri dengan orang lain ataupun mengidentifikasi sebagai yang bertolak belakang, adalah dua kutub yang eksis bersamaan dalam manusia. Tidak ada sisi yang lebih baik dari yang lain. Antagonisme itu yang justru dalam pandangan saya membuat hidup seseorang menjadi menarik.

Di masyarakat yang memilih mengubur hidup-hidup tradisi merajah tubuh leluhurnya, kemudian menukarkan itu dengan agama, modernitas dan moralitas ala masyarakat industri, memiliki tato tentu tak pernah menjadi hal yang mudah. Meski sebenarnya bagi saya, hal itu cukup simple.

Karena melihat tato secara sederhana, membuat saya tak habis pikir dengan upaya keras dari beberapa orang untuk membela tato dan orang bertato. Sebabnya, saya sudah beberapa kali berjumpa dengan individu-individu yang menggunakan kaos dengan tulisan-tulisan yang membela tato. Beberapa kali juga mesti menahan diri agar tidak terlibat dalam perdebatan yang -saya anggap- konyol tentang tato. Lalu, ada sebuah lagu dari band punk (maksud saya tentu saja Marjinal) yang juga berbicara dalam kanal yang sama: bahwa tato bukanlah kejahatan. Seakan-akan bahwa tato adalah sebuah prestige yang mesti didudukkan di tempat yang selayaknya. Bagi saya yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan urban, ketiadaan diskriminasi hanya terjadi di dalam mekanisme ekonomi. Bahwa setiap orang di bawah sistem jual beli adalah sama. Hari ini, satu-satunya kesetaraan yang kita miliki adalah bahwa semua orang adalah konsumen.

Bagi para tattoo rights defenders, tato dan mereka yang memiliki tato telah mengalami diskriminasi oleh mayoritas yang tak bertato. Itu mengapa sudah selayaknya melakukan perjuangan untuk kesetaraan antara yang bertato dan tidak. Entah mengapa, saya justru tak sepakat soal isu-isu tentang kesetaraan, termasuk soal tato ini.

Dalam subjektif saya, tato memang diskriminatif. Itu fitrah-nya. Tato selalu bersifat minor sejak awal sejarahnya. Perbedaan motif tato antar komunal, adalah salah satu bukti buat saya. Bagaimana sebuah desain rupa dari tato sangat bergantung pada interpretasi sebuah kelompok atau seseorang terhadap sesuatu atau sebuah peristiwa. Bentuk-bentuk yang beragam itu merupakan hasil dari proses pemberian makna yang prosesnya sangat diskriminatif. Kesepakatan akan makna yang timbul dari bentuk tato dalam sebuah kelompok atau bagi seseorang tentu tunggal, alias hanya memiliki satu pengertian semata. Di sini, tak ada yang namanya keragaman interpretasi.

Tato juga selalu bersifat individual di saat yang bersamaan.  Karena itu tak pernah akan kita temukan, satu tato melekat di dua tubuh yang berbeda. Karena itu kita tak akan pernah menemukan tato sebagai perekat fisikal bagi dua orang. Satu tato dengan satu arti untuk satu orang. Meski desain tato tersebut sama. Dengan kata lain, tidak ada tato yang identik seratus persen. Karena itu tato tidak memiliki fungsi dan sifat seperti kaos yang dapat kau gunakan, lalu bisa dipinjamkan kepada teman agar bisa dia gunakan. Tato melekat dan menjadi bagian personal dari seseorang. Sesuatu yang datang dari luar dan kemudian menjadi menjalin permufakatan setelah mendapatkan izin dari pemilik tubuh.

Hal lain adalah kenyataan bahwa kita hidup di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi homogenitas. Dan tentu saja ketika mayoritas adalah mereka yang tak bersepakat dengan tato, tentu saja orang-orang yang memiliki tato akan memiliki kendala-kendala yang merupakan konsekuensi langsung dari hal tersebut. Ketika seseorang tidak mendapatkan perlakuan yang selayaknya karena banyaknya tato di tubuhnya, tentu saja itu adalah sesuatu yang natural. Jika anda mengalami penolakan dari seseorang karena adanya tato di tubuh anda, tentu tak perlu kaget. Seperti juga anda tak pernah kaget ketika melihat asap saat menghisap rokok. Itu persis bagaimana saya tidak kaget jika melihat seseorang mengalami kecelakaan di jalan raya.

Membela tato justru bagi saya membuat para tattoo rights defenders terlihat seperti remaja kaya cengeng sedang mogok bicara dengan orang tuanya karena menuntut naiknya jatah uang jajan bulanan.

Secara pribadi, saya juga memiliki momen-momen yang dapat dikategorikan diskriminatif karena tato yang saya miliki. Misal, saya pernah ditolak oleh seorang perempuan  ketika menyatakan cinta karena tato. Perempuan yang melahirkan saya juga berkali-kali mewanti-wanti agar tak lagi menambah tato ketika ia kaget melihat tubuh saya yang telah dirajah. Salah satu teman masa kecil juga pernah menceramahi saya tentang mengapa tato tak baik bagi tubuh dengan setumpuk argumentasi yang ia kutip dari alkitab. Namun saya tak mau mengatakan mereka itu diskriminatif. Mereka tentu saja tepat karena bertindak sesuai norma dan nilai yang mereka percayai. Itu yang mereka yakini. Seperti juga saya memiliki keyakinan dan interpretasi sendiri tentang tato dan maknanya bagi saya.

Tato bagi saya adalah perkara subjektif yang bukan merupakan konsumsi publik. Seperti prosesi membuang air besar atau ketika melakukan onani yang saya nikmati dengan baik ketika sendirian di kamar mandi. Itu mengapa, saya tidak merasa perlu untuk membuatnya menjadi konsumsi publik atau setidaknya berupaya meyakinkan orang lain tentang hal itu. Saya memilih bertato karena alasan-alasan personal yang tidak ada kait mengait apakah orang lain suka atau tidak. Jikapun ada konfrontasi akibat pilihan individual ini, maka hanya saya yang berhak bertarung dan saya merasa tidak perlu mengundang orang lain yang sama sekali tak ada kaitannya meskipun ia juga bertato.

Memperjuangkan tato agar dipandang sebagai sesuatu yang legal, baik, harmless atau terminologi lain sejenis itu adalah sesuatu yang tak masuk akal bagi saya. Ini seperti harapan untuk memperbaiki sistem ekonomi demi keadilan distribusi profit. Mengapa? Karena bagi saya, tato berada di di luar garis linear utara-selatan, hitam-putih, benar-salah, baik-buruk, dan semua oposisi biner serupa. Tato adalah tato. Ia adalah sebuah rupa yang dirajah ke kulit untuk kemudian mengokupasi ruang dengan batasan tertentu di luas tubuh seseorang. Ia bukan dagelan politik atau simbol dengan nilai yang sama bagi setiap orang. Tato bagi orang Dayak, saya dan seorang tukang tato tentu saja memiliki arti yang berbeda satu dengan yang lain. Namun itu bukan berarti melahirkan kebutuhan untuk membuat sebuah pengertian tunggal di atas multi-interpretasi ini. Alasannya juga sederhana. Karena saya, tukang tato dan orang Dayak tidaklah berbagi nilai hidup yang sama.

Saya tidak pernah menganggap bahwa tato saya jauh lebih baik dari tato orang Dayak atau bahkan menilainya lebih buruk. Tato saya adalah pemenang dari kompetisi diskriminatif di dalam diri saya, di mana hanya saya sendiri merupakan pesertanya. Kompetisi di mana saya adalah juri tunggal yang memiliki kuasa absolut atas seluruh keputusan. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat keputusan ini. Jika ada revisi di kemudian hari, tentu saja itu atas seizin saya sendiri. Itu mengapa posisi saya soal tato tak pernah netral, melainkan sangat subjektif. Saya tidak akan tinggal diam begitu saja ketika ada seseorang menghina tato saya. Namun itu tak serta merta membuat saya merasa cukup alasan untuk ikut-ikutan membela tentang tato demi kepentingan umat. Bagi saya, setiap orang mesti mempertahankan dirinya sendiri dari setiap serangan yang datang kepadanya. Hidup mati seorang manusia ditentukan oleh dirinya sendiri, bagaimana ia bertahan dan bagaimana ia menyerang.

Itu sebabnya, setiap kali melihat seseorang mengenakan kaos bertuliskan Masyarakat Bertato membuat saya sering tersenyum sendiri. Kalian tahu mengapa? Karena itu justru terlihat seperti kaos partai bagi otak dangkal saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar