Jumat, 29 Agustus 2014

Perbincangan: A.D.D


Perempuan sipit ini berbincang dan terus berbincang melalui Skype. Topik awal yang bertukar pandangan seputar keinginanku untuk menonton Morrissey pada akhirnya hanya memakan waktu sekitar lima belas menit saja; topik berikutnya soal cinta yang biasanya menguras emosi dan berujung pada rasa pilu justru lebih banyak dilewati dengan tawa. Tanpa disadari kami beralih pada satu topik khusus yang saat kulirik arlojiku, kami ternyata telah melewatkan nyaris setengah malam: mengenai relasi spesial manusia terhadap teknologi.

Charles Darwin, dua abad lampau, menyatakan bahwa berdasar penelitiannya sekian lama pada runutan sejarah kehidupan di alam ini, ia menemukan bahwa hanya makhluk yang mampu beradaptasilah yang pada akhirnya akan keluar sebagai ia yang bertahan hidup. Tidak seperti anggapan umum, yang menerjemahkan teori evolusioner Darwin sebagai ia yang kuat yang akan menang. Anggapan itu keliru, Darwin berkata, bukan ia yang kuat melainkan ia yang adaptif. Dan kini kita hidup di era di mana teknologi sebagai sebuah kesatuan sistem yang demikian kompleks, bukan lagi teknologi yang dapat diterjemahkan sebagai sekedar alat. Teknologi telah menentukan alur hidup manusia, bukan sebaliknya—lagi-lagi aku harus berseberangan dengan anggapan umum—yang berarti apabila kita menerapkan teori evolusioner scara sederhana, maka hanya yang adaptif terhadap percepatan teknologilah yang akan berhasil bertahan hidup.

Theodore Kaczynski, seorang profesor matematika, memperingatkan akan hadirnya konsekwensi buruk atas kemelekatan manusia pada teknologi. Demikian juga Bill Joy, seorang programmer komputer terpandang; atau Martin Rees, seorang astronom terkemuka Britania Raya. Atau Freud dan Hokheimer. Bahkan untuk lebih mudah mengidentifikasi dan melengkapi jajaran para skeptis, kusebutkan satu orang yang tentu siapapun kenal: Albert Einstein. Di negara-negara industrial, di mana masyarakatnya telah berhadapan dengan keras dengan teknologi, para psikiater mendeteksi adanya sebuah ‘penyakit’ gaya baru yang berkembang seiring dengan kemelekatan manusia dengan teknologi: A.D.D.

Amat disayangkan apabila di Indonesia ini nyaris tak ada yang menyoroti hal tersebut secara khusus, justru di negeri di mana ide-ide dari luar hadir tanpa landasan material yang kuat, di mana produk-produk material hadir tanpa landasan ide sama sekali. Mungkin belum. Mungkin generasi anak-anak kita nanti yang akan mulai melihat permasalahan ini, karena generasi merekalah yang semenjak membuka matanya pertama kali di dunia, apa yang mereka dapati adalah relasi mesra dengan teknologi. Tapi kegelisahan itu sesungguhnya mulai hadir, sebagaimana yang dialami oleh seorang jurnalis Tempo yang pernah berbincang denganku beberapa saat lalu, beberapa orangtua mulai khawatir. Apabila si kecil mengganti-ganti saluran televisi padahal di saat yang sama ia sedang menonton film, hal tersebut dapat dideteksi sebagai tanda awal Attention Deficit Disorder: ketidakmampuan untuk memberi fokus pada satu hal dengan cukup lama. Epidemi terkini dari abad digital selain menurunnya kemampuan literer yang bersahut-sahutan dengan menipisnya koleksi perbendaharaan kata.

Tapi sebentar, bagaimana apabila justru A.D.D. bukanlah ‘penyakit’ melainkan sebuah kemampuan beradaptasi? Bagaimana apabila kenyataan tersebut justru sebuah mekanisme pertahanan diri di dunia di mana media korporat dan agen-agen pemasarannya selalu berusaha memrogram diri kita kemanapun kita melayangkan pandangan? Di sini billboard iklan, di sana brand korporat, di sini koran, di sana artikel online. ‘Penyakit’ inipun dideteksi hadir dan berkembang di akhir dekade ’90-an, setelah majalah-majalah bisnis komputer semuanya mendeklarasikan bahwa kita telah memasuki sebuah “area ekonomi kini berdasar pada perhatian (attention),” di mana komoditi dipasarkan berdasar “gerak bola mata”. Mereka menggunakan setiap detail data psikologi dan neurologi diri manusia yang mereka punya untuk membuat semua tampilan pemasaran mereka menarik perhatian, menjebak daya ingat, dan semoga juga uang kita.

Jadi mungkin kemampuan untuk tidak memperhatikan—untuk melewatkan pandangan sepintas saja, memikirkan hal lain di saat kita diminta untuk menaruh fokus, terus bergerak dan mudah melupakan—justru adalah sebuah kemampuan yang menakjubkan dari tubuh manusia. Lagipula mengapa obat resep Ritalin dalam catatan resmi kedokteran telah meningkat 4000% dalam 15 tahun terakhir? Itupun hanya yang tercatat. Apabila anak-anak tak mau mengonsumsi iklan dengan sukarela, maka para psikolog pengembang kepribadian, yang mana kita semua tahu untuk siapa mereka sesungguhnya bekerja, akan menyarankan penggunaan obat-obatan.

Perempuan ini terus menerus merokok saat kami berbincang soal teknologi dan A.D.D. padahal dalam topik-topik perbincangan sebelumnya ia hanya menghisap rokoknya satu batang. Gelisah? Entahlah. Tapi yang aku tahu, semenjak Agustus lalu, perubahan yang kusadari dari dirinya adalah bagaimana ia mulai mengonsumsi rokok.

Mungkin generasi di bawah kami tak menyadarinya, karena mereka tak dapat membandingkan pengalaman hidup yang relatif lebih lepas dari teknologi dengan pengalaman hidup di bawah percepatan yang luar biasa. Kami tak mendapat jawaban apapun, sebagaimana perbincangan kadang tak membutuhkan jawaban, selain hanya kemampuan berbagi. Karena perang yang terjadi di benak kita semua dan mekanisme pertahanan diri tubuh kita adalah sesuatu yang nyata, senyata dunia cyber di mana kita semua berada. Mereka berkehendak menduduki wilayah realita kita sebelum kita bisa memiliki kemampuan untuk menjadi otonom walau hanya untuk wilayah satu milimeter persegi saja.

Di akhir perbincangan, arlojiku menunjukkan pukul empat pagi. Aku bertanya, mengapa ia tampak begitu antusias—walaupun gelisah—dengan topik tersebut. Ia hanya tersenyum dan menyibakkan rambutnya yang ia biarkan tumbuh memanjang.

“Saya ingin punya anak, tapi saya terus terang takut dengan kenyataan soal gimana dunia ini jalan,” ujarnya seraya mematikan rokoknya di asbak yang ia letakkan di atas meja di sebelahnya. Mendadak mata sipitnya menatapku tajam, “Jangan coba-coba bilang kalau kamu mau jadi sukarelawan buat nanam benihnya.”


Kami berdua tertawa. Pada akhirnya di penghujung sesi perbincangan ini, kami bisa tertawa lagi. Sesi perbincangan yang mungkin tak akan terjadi lagi setelah akhir minggu ini berakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar