Selasa, 19 Agustus 2014

Teknologi: Subjugasi


The commodity can be understood in its undistorted essence only when it becomes the universal category of society as a whole. Only in this context does the reification produced by commodity relations assume decisive importance both for the objective evolution of society and for the attitudes that people adopt toward it, as it subjugates their consciousness to the forms in which this reification finds expression. . . . As labor is increasingly rationalized and mechanized, this subjugation is reinforced by the fact that people’s activity becomes less and less active and more and more contemplative.
—Lukács, History and Class Consciousness

“Gue pengen banget nih beli iPhone 4S. Kayanya gue musti buru-buru cari kerja deh nih, biar bisa beli.” ujar seorang kawanku beberapa waktu yang lalu dengan wajah agak muram.

Aku menanggapinya dengan senyuman. Senyuman yang mungkin memberikan kesan ambigu. Lengkuk tipis di ujung bibirku yang mulai meringis naik, serta merta menunjukkan kesinisan yang diam-diam ingin kusampaikan kepadanya. Ingin rasanya aku menertawainya karena ia dapat dengan mudahnya tergiur untuk bekerja, hanya untuk membeli barang yang sepele seperti itu. Barang yang sebetulnya tidak begitu ia perlukan. Untuk apa? Bermain Facebook? Atau Twitter? Untuk apa ia membeli iPhone jika ia bisa melakukan hal itu semua dengan laptop yang sudah dimilikinya? Laptop yang aku perikirakan juga harganya cukup mahal. Jika ia ingin menggunakannya untuk berkomunikasi dengan kerabat atau koleganya, lalu bukankah itu bisa dilakukan dengan ponsel yang sudah dimilikinya? Atau ini memang hanya sekedar masalah pencitraan? Lain cerita jika memang ia memutuskan bekerja untuk tujuan yang berbeda, dan tuntutan yang juga berbeda. Dan jika ia memang membutuhkan iPhone untuk keperluan pribadi yang mendesaknya. Aku tidak akan mengkritisasi keputusannya, aku justru akan menganjurkannya. Tetapi aku sendiri sudah mulai bosan dengan perilaku-perilaku impulsif seperti ini. Pola hidup konsumtif yang terus menerus menggerogoti sebuah generasi, yang naasnya aku turut hidup di dalamnya.

Di sisi lain aku juga menyadari, tendensi pola pikir orang-orang kebanyakan di generasiku. Generasi dimana buaian media massa dan teknologi, telah meredefinisi dengan gamblang pribadi-pribadi yang paling tidak (seharusnya) mempunyai nilai otonom, menjadi pribadi-pribadi yang terjebak di dalam kemajemukan massal. Guy Debord, salah satu pendiri gerakan revolusioner Perancis Situationist International (SI) di pertengahan tahun 60an silam, telah memprediksikan gejala-gejala sosial di era kapitalisme maju seperti sekarang. Era dimana kita, masyarakat yang telah di dominasi oleh kondisi produksi modern, tidak lagi memikirkan hidup sebagai pengalaman konkret, melainkan hanya sebagai akumulasi dari pertunjukan besar (spectacle). Hidup yang awalnya kita alami secara langsung, telah berubah menjadi representasi belaka.

Di Singapura, negara kecil yang kemajuan teknologinya jauh melebihi Indonesia, masyarakat telah bertransformasi menjadi semut-semut raksasa yang sudah tidak lagi mengindahkan nilai sosial antar manusia. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bergelut dengan ponselnya, ketimbang berbincang dengan manusia lain dan bersosisalisasi, layaknya seorang manusia. Tidak jarang aku melihat orang-orang lalu lalang dengan ponsel mereka, dengan earphone menancap dalam ke lubang telinga, tanpa adanya kepedulian terhadap lingkungan sekitar yang dilaluinya. Bahu yang bersinggungan hanya dianggap sebagai gangguan transmisi, suara kicauan burung yang indah di atas rindangnya pohon diabaikan, obrolan lepas ditanggapi dengan gestur defensif, apa jadinya jika manusia sendiri telah melupakan hal-hal yang sifatnya primordial seperti ini? Keterasingan sudah menjadi pengalaman hidupku yang tidak akan pernah bisa ku elakkan selama aku tinggal di Singapura. Kemana lagi aku harus menoleh dan berbincang, ketika sesamaku justru lebih memilih untuk bergunjing dan bersosialisasi di situs social networking seperti Facebook?
* * *
Aku menyadari bahwa manusia memang selalu ingin hidup dalam kenyamanan. Efisiensi dalam ketenagakerjaan (kemudahan dalam mendapatkan kerja, dengan upah layak), dan keamanan yang sudah selayaknya kita dapatkan sebagai anggota masyarakat di dalam suatu negara, adalah satu dari banyak tuntutan yang kita punya. Tetapi terkadang, tuntutan dan ‘kemauan’ tersebut juga selalu dilibati oleh sifat manusia yang tidak akan pernah puas terhadap hal yang telah ia dapatkan. Kita selalu menginginkan kenyamanan yang lebih, efisiensi ketenagakerjaan yang lebih, dan keamanan yang lebih. Selalu saja seperti itu.

Kecenderungan seperti inilah yang terus menjadi pergolakan dalam diri tiap manusia untuk menghidupi hidupnya. Manusia-manusia primitif dulu misalnya, yang masih hidup di dalam gua gelap dan pengap, berani memutuskan untuk mendobrak zona ‘keamanan’ mereka sendiri, untuk mengarungi lembah dan gunung, agar mereka bisa membangun rumah yang layak dan kondusif untuk mereka huni. Dengan segera mereka menemukan teknik bertanam untuk kehidupan yang lebih layak dan permanen, mesin pun ditemukan, dan hukum pun ditetapkan. Semua ini dilakukan karena mereka, kita, manusia, tidak akan pernah puas terhadap apa yang telah kita punya, dan selalu ingin hal yang lebih dari itu. Dan sekarang, di zaman modern ini, manusia telah dapat menikmati kenyamanan-kenyamanan dalam berbagai taraf; dari alat-alat transportasi, sampai komunikasi.

Teknologi memang dianggap sebagai karunia bagi kebanyakan orang karena telah membawa kemajuan dalam masyarakat,  memberikan kemudahan kepada kehidupan manusia, dan membuka dimensi baru dalam hidup. Dengan demikian, teknologi sangat diperlukan karena tanpa itu manusia tidak mungkin telah menaklukkan hambatan peradaban. Namun, kisah menarik dari teknologi tidak berhenti di sini. Teknologi tidak hanya dianggap sebagai “karunia”, i.e sebagai hal yang “baik” saja, tetapi juga sekaligus sebagai hal yang merugikan. Teknologi menegasi dirinya sendiri, selain menghasilkan hal-hal yang menguntungkan bagi kemajuan peradaban, teknologi juga turut membawa efek buruk pada manusia dan masyarakat. 

Al Lewis Mumford, pernah mengatakan bahwa technology, as a mode of production, as the totality of instruments, devices and contrivances – which characterize the machine age – is thus at the same time a mode of organizing and perpetuating (or changing) social relationships, a manifestation of prevalent thought and behavior patterns, an instrument for control and domination.

Oleh karena itu bisa diartikan, teknologi sebagai moda produksi, telah mengubah hubungan sosial antara individu. Teknologi—sebagai alat yang dirancang untuk mengontrol dan menguasai—yang mempromosikan kekacauan daripada keharmonisan, dan kebingungan daripada pemahaman.

Kita sudah tidak bisa lagi menyangkal bahwa teknologi memberikan dampak buruk bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Karena pada kenyataannya, indikasi-indikasi yang telah kupaparkan tadi juga mulai terlihat jelas, seiring perkembangan zaman yang semakin modern. Dan yang lebih parahnya lagi, teknologi juga (seperti yang sudah sering kita lihat dan ketahui) dapat merenggut keunikan tiap individu  dan mendegradasi status manusia menjadi hanya sekedar objek, mesin yang turut membantu pergerakan roda mesin yang lebih besar.

Herbert Marcuse, salah satu tokoh pemikir sekolah Frankfurt, menjalankan kritiknya terhadap teknologi dengan nada yang kurang lebih serupa seperti Lewis Mumford. Marcuse adalah filsuf dan kritikus politik yang secara garis besar mendalami teori kritis soal pembebasan manusia dari segala bentuk kontrol sosial dan dominasi. Dimulai dari eksaminasi dan pengkajian ulang teori dialektika Hegel, berlanjut ke investigasi kritikal terhadap teori-teori Karl Marx soal buruh dan tenaga kerja, dan yang berujung ke psikoanalisa Freud.

Dalam bukunya (er, that would be misleading, I read it on a pdf, actually) “One-Dimensional Man” Marcuse mengajarkan bahwa teknologi, sebagai bentuk kontrol sosial baru, dapat men-dehumanisasi peran manusia sebagai manusia. Namun meskipun begitu, ia tidak hanya membayangkan teknologi sebagai bentuk dominasi tetapi juga sebagai bentuk mekanisme yang sangat menentukan, yang timbulnya dari aktualisasi diri. Oleh karena itu, menurut fungsinya, teknologi terbagi menjadi dua macam, yaitu: sebagai alat untuk dominasi, atau sebagai alat emansipasi.

Jika dilihat dalam filsafat Marcuse, teknologi bisa dipahami juga sebagai penemuan, yaitu, sebuah alat atau perangkat yang memfasilitasi kontrol sosial dan dominasi. Teknologi yang juga berarti dua komponen alat yang bisa digunakan dalam produksi barang, dan juga proses sosial yang dapat memfasilitasi kontrol dan dominasi. Sebagai penemuan, fungsi utama teknologi tentu saja sebagai alat produksi barang untuk melayani kemanusiaan dalam pengadaan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup sehari-hari dan untuk terus mempromosikan kehidupan yang nyaman dan memuaskan.

Dalam industri penggilingan padi, misalnya, penerapan alat teknologi seperti mesin penggilingan dan pengetahuan praktis dan keterampilan dalam operasinya meningkatkan tingkat produksi dengan jumlah energi yang dikeluarkan relatif sedikit, sehingga dapat membebaskan pekerja dari pekerjaan yang membuang-buang waktu dan melelahkan. Di sisi lain, teknologi sebagai proses sosial mengacu pada organisasi teknik (seperti aparat teknis industri), pengetahuan, keterampilan dan prosedur yang bertujuan untuk mengumpulkan kapital. Menurut Marcuse, kombinasi teknologi yang efektif dengan modal (kapital) menyebabkan kelebihan produksi yang berujung kepada pengurangan (secara paksa) terhadap permintaan atas kebutuhan.

Dengan kata lain, kapitalisme menciptakan kebutuhan artifisial untuk membenarkan tindakan kaum kapitalis untuk membuang barang surplus. Jika dijelaskan secara sederhana, tanpa terlalu ‘menyederhanakan’, teknologi kini menjadi ‘tujuan akhir’ itu sendiri, dan hidup kini semata-mata hanya menjadi sarana menuju ‘tujuan akhir’ ini. Dengan demikian teknologi di bawah kapitalisme menjadi jenis kontrol sosial yang mengarah pada kehancurannya sendiri.
* * *
Dalam film legendarisnya, “Metropolis”, Fritz Lang menggambarkan dengan jelas mimpi terburuk dari peradaban manusia yang berakhir dengan pergulatan antar kelas yang diprakarsai oleh rasa keterasingan seorang individu kelas atas terhadap kemajemukan hidupnya, yang membawanya kedalam hiruk pikuk dunia pekerja kelas bawah yang belum pernah ia lihat sebelumnya, sehingga ia menggambarkan, membayangkan mesin-mesin industri di tempat dimana orang-orang bekerja, sebagai raksasa megah, yang terus menelan kehidupan, nyawa-nyawa manusia yang turut menjadi motor pergerakan mesin besar tersebut. Matanya terbuka, dan ia bersikeras untuk mengubahnya. Menjadi katalis atas pergejolakan antar kelas yang sudah tidak bisa lagi di hindari.

Aku akui bahwa teknologi kini mungkin kelihatannya tidak seseram mesin-mesin pemakan nyawa manusia seperti yang digambarkan Fritz Lang di dalam filmnya, dengan bongkahan besi-besi yang berputar kencang, uap-uap yang menghembus kencang dari kisi-kisi mesin, dan semburan minyak-minyak pelumas. Kini teknologi telah mengalami kemajuan yang begitu drastis, sehingga kemajuan teknologi tidak lagi hanya bisa dirasakan oleh mereka para buruh-buruh keras, tetapi juga untuk mereka, untuk kita, para masyarakat kelas menengah atas, dengan teknologi canggih, dengan desain yang dibuat sedemikian rupa, untuk terus menarik perhatian pasar, dengan memberikan kenyamanan semu.

Sebagai alat untuk dominasi, teknologi mengontrol, memanipulasi dan mengarahkan manusia dengan membuat diri mereka tunduk kepada tatanan sosial yang berlaku represif. Ini menjadi alat untuk dominasi ketika diatur atau dimanipulasi oleh kelas penguasa kapitalis untuk merauk keuntungan melalui eksploitasi manusia dan alam. Bukankah ini merupakan tanda bahaya bagi kita manusia? Jika teknologi mendominasi, maka kita tidak lebih dari hanya mesin biologis yang merespon kepada proses-proses teknis, seperti mesin. Kita tereduksi.

Temanku itu kembali menghubungiku beberapa waktu yang lalu lewat telepon,

“Coy, temen lo ada yang jual Macbook Pro nggak? Gue lagi nyari nih.” dengan nada yang sama persis seperti hari-hari sebelumnya.

“Lah, lo bukannya udah punya laptop?”

“Iya emang, gue mau ganti aja, yang ini mau gue jual.”

Aku terdiam sejenak berpikir untuk segera melabraknya, karena aku sudah benar-benar muak dengan perilakunya yang seperti ini, dan ini bukanlah yang pertama kali. Aku sebenarnya tidak ada masalah dengan barang-barang teknologi tersebut, memang sudah begitu adanya, konsekuensi dari kemajuan peradaban, dan itu sudah tidak bisa terelakkan. Tidak sekonyong-konyongnya lalu aku menolak segala bentuk kemajuan teknologi untuk berpartisipasi dalam hidupku, tentu aku bersikap realistis. Yang menjadi perhatianku dan yang kerap menggangguku disini justru lebih kepada model-model individu yang dihasilkannya. Bukan keberadaan ‘benda’ itu sendiri.

“Oh, ya udah, entar gue tanyain kalau ada ya.” jawabku singkat.

“Ok.”

Ia menutup telepon, dan aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Biarlah, aku sudah tidak peduli lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar