Jumat, 15 Agustus 2014

Tentang Menjadi Manusia Indonesia: Identitas


Di negeri ini, kekuatan politik pertama yang berani mengusung nama Indonesia adalah Partai Komunis Indonesia (PKI), saat negeri ini masih di bawah koloni Belanda. Pemberontakan modern pertama yang mana para pelaku pemberontakan memiliki kesadaran akan harga diri, posisi kelas dan nilai kebangsaan, adalah pemberontakan melawan kolonial Belanda di tahun 1926. Pemberontakan yang gagal tentu saja, tapi poinnya bukan soal kemenangan, melainkan untuk mencanangkan identitas soal siapa bangsa bernama Indonesia. Pemberontakan terorganisir pertama tersebut diorganisir oleh PKI. Keputusan untuk mengambil kesempatan, saat Jepang ditaklukan pasca pemboman Hiroshima dan Nagasaki, untuk memroklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 1945, didorong oleh pemuda-pemudi gila, nekad dan radikal, yang sebagiannya adalah anggota PKI. Maka tercetuslah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di 17 Agustus 1945. Pemberontakan PKI di Madiun pada 1948, adalah juga pemberontakan untuk memperkuat status dan harga diri ke-Indonesia-an setelah buntunya perjanjian Renville antara Indonesia dan Belanda, yang ditengahi oleh PBB. Orang-orang gila dengan mimpi tinggi dalam genggaman mereka.
Aku tahu sejarah negeriku. Aku paham bagaimana kini aku bisa hidup di sini seperti saat ini. Aku mengerti bagaimana aku bisa memiliki paspor bertuliskan Indonesia dan nama negeri asalku Indonesia setiap kali seseorang bertanya padaku di luar negeri darimana aku berasal. Penanda geografis belaka memang, tapi setidaknya itu identitas yang kusandang. Aku tidak bisa berkata bahwa aku sekedar warga bumi, warga dunia, karena kulitku berbeda, karena bahasaku berbeda dan aku tidak menyukai ide untuk membuat satu bahasa dunia. Aku menyetujui adanya bahasa universal untuk memudahkan komunikasi, tetapi aku tidak menyetujui dilenyapkannya bahasa ibu. Lingkunganku berbeda dan nilai-nilai yang kuanut berbeda.
Setiap kali aku melangkah di negeri lain, aku tahu dan sadar sepenuhnya bahwa aku bukan mereka. Aku bisa memelajari bahasa mereka, cara hidup mereka, apapun soal mereka, tapi aku tetap bukan mereka.
Aku tidak menyukai PKI. Lebih dalamnya lagi, aku tidak setuju dengan konsep-konsep yang diajukan oleh Lenin—sesuatu yang dijadikan panduan gerakan oleh PKI, diimbuhi dengan varian Stalinisme. Belum lagi melihat banyak error yang dilakukan oleh PKI, error yang dilakukan oleh partai-partai komunis di negeri lain, terutama di era Perang Dingin. Aku tidak ingin hidup di bawah rezim yang dibangun oleh para Leninis dan Stalinis.
Tapi di negeriku, di Indonesia, aku merasa aku harus memberi mereka kredit yang selayaknya. Atas apa yang telah mereka perbuat, lakukan dan korbankan. Bukankah apa yang ada sekarang adalah hasil dari apa yang terjadi sebelum-sebelumnya?
Maka saat belum lama berselang seorang perempuan, anarkis-feminis-traveller-kulit putih, menafikkan gunanya memahami Leninisme tanpa pernah memahami apa itu Leninisme, tanpa memahami apa peran yang pernah dilakukan para pengikutnya hingga hadirnya identitas Indonesia saat ini, dan mengatakannya persis di hadapanku, aku merasa tidak bisa tinggal diam. Ini tempatku, ini tanah di mana identitasku bermula, aku tahu dan paham sejarahku yang penuh darah, tapi ini tetap negeriku. Supremasi kulit putih sudah berakhir di sini sejak 1926, kolonialisme kulit putih sudah berakhir di sini sejak 1945, dan apabila kini seorang kulit putih masih merasa lebih superior di sini, di tahun 2014—walaupun ia tidak secara gamblang mengakuinya—adalah hal yang terbaik yang bisa kulakukan saat aku mengusirnya pergi dari tanahku.
Lagipula aku benci orang dungu yang merasa paham akan sesuatu padahal sesungguhnya ia hanya tahu dari apa yang ia dengar dari orang lain. Sungguh, bagiku kedunguan itu jauh lebih memuakkan daripada kegilaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar