Jumat, 16 Januari 2015

Apa Yang Saya Bicarakan Ketika Saya Berbicara Mengenai "Je Suis Charlie" atau "Je Ne Suis Pas Charlie"


Apa yang terjadi pada para wartawan dan staff Charlie Hebdo kemarin ialah peristiwa yang menyedihkan, tentu saja. Yang terbayang di pikiran saya ialah bagaimana jika saat saya berada di sebuah kantor lantas datanglah orang-orang yang menembaki saya dan beberapa teman saya. Tentu saja pihak keluarga, teman dan para kerabat kami akan terpukul dengan kepergian saya.

Namun setiap pekerjaan memiliki resikonya sendiri.

Seorang pekerja kantoran pun bisa tewas akibat stress yang berlebihan dan berujung kepada penyakit macam diabetes, hipertensi, stroke dan serangan jantung.

Mungkin yang mengejutkan bagi kenyatataan yang kita bangun setiap harinya, ialah bagaimana bisa di sebuah negara maju seperti Perancis, wartawan dan staff sebuah media kartun yang kebebasan berpendapatnya dijamin oleh hukum, harus mengakhiri perjalanan hidupnya lewat berondongan peluru? 

Dalam benak saya hal tersebut bagaikan menonton film kartun. Bugs Bunny seolah-olah ditakdirkan dengan kecerdasan dan kejenakaannya hadir dalam adegan kartun untuk menjahili Yosemite Sam. Sementara Yosemite Sam seolah-olah ditakdirkan dengan kebrutalan dan sikap piciknya untuk membuat kapok Bugs Bunny. Kita biasanya menebak bahwa cerita tersebut berakhir dengan kemenangan Bugs Bunny dan menyerahnya Yosemite Sam. Tapi bagaimana jika ternyata Bugs Bunny mati terkena berondongan revolver Yosemite Sam?

Berbicara mengenai kebebasan pers di Perancis, Koran "Rouge" yang dibentuk oleh Jeunesse Communiste Revolutionaire (Revolusioner Muda Komunis) dibredel pada 1968, di tengah gelombang aksi unjuk rasa di Perancis. Maka kebebasan berbicara ataupun kebebasan pers bukanlah sebuah budaya yang muncul tiba-tiba dan serta merta abadi. Ia bukan tanpa kecacatan di Perancis -sejak jaman Revolusi Perancis- dan juga di belahan Eropa lainnya, dimana kasus-kasus pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat dan kebebasan pers acapkali terjadi. Radio Television of Serbia misalnya, pernah dibom oleh Pasukan Koalisi pada 23 April 1999 karena dianggap menyiarkan berita propaganda selama Perang Kosovo. Namun mengapa seolah-olah semua pihak menganggap bahwa sosok Eropa ialah sosok yang selalu mengedepankan kebebasan?

Eurosentrisme ialah sebuah istilah yang dipakai oleh Samir Amin -seorang Ekonom Marxist dari Mesir- untuk menunjukkan sebuah fenomena, dimana "Eropa" ialah sebuah konstruksi cara pandang kebudayaan dan peradaban yang menyamarkan dirinya sebagai sebuah nilai yang universal. Samir Amin berpendapat bahwa melalui masa kolonialisme modern, yang memunculkan negara-negara Eropa sebagai penguasa kolonial, maka pada akhirnya mereka sampai pada sebuah paham bahwa mereka adalah sebuah kesatuan peradaban yang unggul, yang dibangun di atas sebuah pondasi mistikal, bahwa bangsa dan kebudayaan Eropa lebih unggul dibandingkan bangsa dan kebudayaan lainnya. Samir Amin menyatakan bahwa justru kelemahan dari moda produksi Eropa dalam sistem feodalisme yang berkembang disanalah yang mendorong bangsa-bangsa Eropa keluar dari sarangnya lantas menghadirkan kolonialisme, kapitalisme dan dominasi global di belahan dunia lainnya.

Para aktivis, kaum progresif dan Übermensch, mereka yang merasa lebih tercerahkan dari sesamanya berbicara mengenai betapa cintanya mereka akan nilai-nilai kebebasan bagi umat manusia. Mereka yang mencintaimu ialah mereka yang paling mungkin menyakitimu, ialah sebuah kepercayaan yang saya pegang.

Mungkin juga kita harus memisahkan apa itu cinta dengan apa yang dinamakan keterikatan. Dimana seorang yang mengaku dimabuk cinta tidak bisa lepas dari apa yang ia cintai. Semakin hari ia semakin asing dengan dirinya sendiri, tidak mampu menjadi dirinya tanpa sosok yang ia cintai. Selalu ada kecanduan dalam keterikatan. Selalu ada keterasingan dalam kecanduan. Bagaikan seorang alkoholik akut yang tidak lagi menikmati sensasi kemabukan, karena setiap saat dari hidupnya ialah sebuah bentuk kemabukan dan apabila ia tidak mabuk maka dunia ini nampak kejam dan bengis baginya, sang pecinta terus menerus menekan garis batasnya akan konsumsi cinta, kecanduan yang ia alami memaksanya untuk lebih banyak mengkonsumsi, semakin banyak ia mengkonsumsi semakin asing juga ia dengan cintanya tersebut, semakin berkurang kebahagiaan dan kesenangan yang ia rasakan.

Kita seringkali mendengar ucapan naif bahwa seseorang yang dimabuk cinta, menerima cinta dari sosok manusia lainnya, karena ia ingin mempertahankan kebaikan yang ada pada dirinya atau mengubah keburukan yang ada pada pihak yang ia cintai.

"Gue suka sama dia, dan berharap dia juga mau berubah ke arah yang lebih baik" begitu kira-kira tipikal curhat yang biasa saya dengar. Perlahan-lahan cinta yang ada seakan menjadi rangkaian tuntutan. Si A menuntut si B untuk jadi C dan si B menuntut si A untuk jadi si D. Pada akhirnya, mereka sama-sama asing dan terasing dan terpaksa menjalani keterikatan.

Tidak ada sensasi disini, yang ada ialah rutinitas dan kewajiban.

Para wartawan dan staff Charlie Hebdo, bisa jadi orang-orang yang dimabuk oleh cinta. Begitupula sosok penembak yang mengakhiri nyawa mereka.

Beberapa kartunis Charlie Hebdo memulai karirnya di majalah Hara Kiri Hebdo dan L'Enrage dan menggabungkan bentuk kritik sosial dengan satirisme kartun. Hara Kiri Hebdo sempat dibredel pada 1961, 1966 dan 1970. Pada pembredelan yang terakhir Hara Kiri Hebdo menjelma sebagai Charlie Hebdo.

Mungkinkah penggambaran satir yang dilakukan oleh kartunis Charlie Hebdo ialah semacam kecanduan yang melekat?

Bisa jadi justru selama ini konsep kritik sosial dan satirisme kartun ialah hal yang justru paling membelenggu mereka. Sehingga ambang batas antara kejenakaan dan resiko, untuk mendapatkan sensasi dan kepuasan makin lama semakin tipis dan pada puncaknya: over dosis.

Seolah-olah mereka yang bekerja di Charlie Hebdo bukan apa-apa tanpa semboyan kegiatan yang mereka lakukan sehari-hari di dalam Charlie Hebdo. Dan kesenangan yang mereka dapatkan dari rutinitas mereka tersebut amat rapuh oleh kebiadaban manusia lainnya (atau katakanlah: kaum barbar).

Para jihadis di Eropa, yang diduga kuat menjadi sosok dari pelaku penembakan pun biasanya mengidap kegagapan cinta yang serupa.  Berulangkali kita mendengar bahwa kaum Jihadis ini bukanlah muslim yang taat atau dapat mengerti dan menterjemahkan ajaran Islam dengan baik, bahkan acapkali mereka lalai dalam melakukan kewajiban-kewajiban ibadahnya.

Namun mereka harus memilih antara dua cinta.

Gagal diterima sebagai bagian dari komunitas yang menjanjikan Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan, mereka segera mengalihkan cintanya pada nilai-nilai yang menawarkan identitas bagi mereka, di tengah rasa penuh keterasingan. Sebuah cinta baru yang akan menghapus luka pada cinta yang lama.

Maka sampailah kita pada sebuah kisah yang hampir serupa dengan kisah petualangan cinta HA dan AS yang memutuskan untuk sepakat mengakhiri nyawa SA, mantan kekasih HA, dengan begitu cinta HA kepada AS akan terikat oleh sebuah sensasi baru yang mengubur sensasi yang lama.

Semua orang lantas bergairah untuk berbicara mengenai kasus ini. Seolah-olah kasus ini ialah sebuah tragedi besar umat manusia. Seolah-olah manusia ditakdirkan untuk saling mencintai. Seolah-olah sejarah manusia yang dipenuhi bangkai dan darah ialah kondisi yang tidak pernah ada.

Seorang kawan pernah berujar pada saya, bahwa semua manusia pada dasarnya ialah pembunuh dan pelacur. Satu-satunya hal yang menghalangi kita semua berubah menjadi pembunuh dan pelacur adalah tanggung jawab dan rasa bersalah yang dibebankan kepada kita oleh manusia lainnya.

Apabila kita dapat memberikan kekuasaan kepada beberapa orang secara acak untuk melakukan kekerasan terhadap orang lainnya, selama mereka bebas dari rasa tanggung jawab, keamanan mereka terjamin serta tidak perlu merasa bersalah, ia akan menjadi mesin pembunuh dan penyiksa.

Dengan alasan yang sama, Charlie Hebdo dengan klaimnya atas sekularisme dan kebebasan berpendapat serta para penembaknya dengan klaimnya atas kesucian dan kemurnian agama, melakukan hal yang serupa. Semuanya hanya orang biasa, yang bisa marah dan pada titik tertentu mampu membunuh. Kalau sang pembunuh yang diduga ialah bagian dari kelompok jihadis dalam melancarkan aksinya memilih AK-47 dibandingkan pensil 2B, itu karena memang mereka menguasai taktik tersebut.

Pendeknya, mereka menggambar kartun atau memberondong peluru, karena hal tersebut memang hal yang mereka bisa lakukan. Dan kalaupun kita bisa memilih untuk mengutuk dan membela atau pun diam, memang cuma hal tersebut yang kita bisa lakukan sebagai reaksi atas hal tersebut.

Tidak lebih. Sementara itu, saya pun tidak tahu mana yang lebih menyedihkan diantara semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar