Tampilkan postingan dengan label Punk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Punk. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juli 2014

Tentang Pernikahan: Surat Untuk Ebby Doombray


Tulisan ini selesai ditulis pada January 2014, untuk mengenang pertemuan dengan Ebby Doombray, vokalis Kontra Sosial. Sebulan sebelumnya, pada festival Chaos in Rumah Api (CIRA) December 2013, di Kuala Lumpur, Malaysia, Ebby membagi kabar gembira mengenai rencana pernikahannya.

Saya yang sempat berjanji pulang ke Indonesia agar dapat menghadiri kegembiraan tersebut, urung datang karena urusan pekerjaan. Surat ini juga sempat lenyap untuk sementara di antara tumpukan file lain sebelum akhirnya laptop lama saya mengalami kerusakan.

Beruntung beberapa hari lalu, seorang kawan berhasil menyelamatkan files yang ada di hard disk. Termasuk surat ini. Kini, saya bisa mempublikasikannya agar Ebby dapat membacanya.

* * *

Dear Ebby,

Layaknya surat yang lain, tentu ada basa basi. Meski sekedarnya. Sekaligus ingin mengucapkan selamat untuk rencana pernikahannya. Sebuah kegembiraan baru dalam perjalanan hidup kini memasuki langkah berikut.

Tak lama lagi, kau akan menjadi seorang suami. Akan memiliki seorang istri. Dan yang lebih hebat lagi, akan memiliki sepasang ayah dan ibu mertua. Mungkin ada saudara dari calon istrimu, mereka yang akan kau sebut ipar. Lingkar sosial mu akan bertambah gemuk dengan kehadiran orang-orang tersebut.

Sekali lagi selamat.

Secara formasi, hidup mu akan berubah ketika memutuskan menikah. Namun apakah itu juga merubah esensi hidup mu, tak ada yang tahu selain diri mu sendiri.

Pernikahan, adalah titik sensitif yang tak pernah sederhana dalam perjalanan hidup seseorang. Tak peduli kau komunis, anarkis, punk, hippies, boyband atau bahkan militan dangdut. Setiap orang akan mengalami transisi sosial dan psikologis ketika memutuskan menikah. Tak peduli apakah itu pernikahan heteroseksual atau homoseksual. Dalam timbangannya sebagai salah satu institusi sosial, setiap pernikahan tetap akan diartikan sebagai upaya mendomestifimasikan hubungan antara dua orang. Pernikahan tetap merupakan ruang di mana ada dua orang yang menyatakan komitmen dan kemudian secara sadar melembagakan ikatan tersebut.

Kau dan calon istri mu adalah wajah-wajah baru dalam potret pernikahan. Setidaknya secara kualitatif, Ebby yang terakhir kali saya jumpai di Ampang, akan berbeda dengan Ebby yang mungkin saya temui nanti.

Dan itulah indahnya perjumpaan dengan kawan lama. Ketika menemukan kejutan-kejutan yang membekas di wajah setelah mereka menjalani waktu di mana kita bukan bagian integral di dalamnya. Itu manisnya kenangan dalam menghargai ingatan. Romantis namun juga realis.

Di tengah dunia yang terus menerus mengalami krisis karena keserakahan akumulatif, mendapati kabar bahwa kau akan menikah merupakan interupsi yang terasa tepat. Ketika hidup harian cenderung banal dan membosankan dengan aktifitas yang repetitif, pesta pernikahan mu justru memiliki arti lebih dari sekedar agenda seremonial belaka. Bukan pada soal seberapa banyak dan variatif menu jamuan di pesta mu nanti, namun berapa banyak kawan yang akan datang dan mentransformasikan momen tersebut menjadi ajang reuni dan melepas rindu.

Secara sublim, saya meyakini bahwa hal itu akan terjadi. Perayaan pernikahan mu akan menjadi festival yang mengintegrasikan individu-individu lain ke dalamnya, dan mengubahnya ke dalam bentuk jaringan kebahagiaan di mana setiap orang akan mengambil peran untuk mendorong tawa dan senyum ke level yang lebih radikal.

Bukankah itu jauh revolusioner?

Mendistribusikan kebahagiaan hingga ke tahap personal melalui sebuah iven temporal yang diinterupsi secara sadar oleh si kreator. Ketimbang membuang energi untuk melakukan demonstrasi di depan gedung parlemen sembari meneriakan bahwa punk bukan preman. Bukankah merayakan hidup jauh lebih bermakna ketimbang pemilihan presiden yang sebentar lagi dihelat? Bukankah menertawakan kegagalan justru membuat kita lebih sehat secara mental, daripada melakukan yoga atau meditasi untuk mengendalikan amarah?

Dan saya percaya itu bisa terjadi di pesta pernikahan mu nanti. Dalam skala sekecil apapun. Itu tak jadi soal karena bukan kuantitas yang menentukan, melainkan capaian kualitas.

Tentu saja akan ada barisan ideologis yang akan mencerca pilihan seseorang seperti mu untuk menikah. Kumpulan para idealis yang gagal memahami realitas hingga menyembunyikan diri di balik kutipan-kutipan teoritik demi kepuasan masturbatif. Akan ada mulut-mulut yang mencibir pilihan seseorang untuk menikah, hanya karena hal ini tidak sesuai dengan kriteria yang mereka tetapkan. Dan saya yakin, kau hanya akan mengacuhkan mereka. Membiarkan gonggongan itu berlalu dan larut ke dalam selokan.

Saya sangat berharap bisa datang dan menjabat erat tangan mu saat itu. Sekaligus ingin melihat dari dekat bagaimana lucunya safari yang bakal kau kenakan. Ada rasa penasaran apakah janggut dan kumis mu akan dicukur rapi atau tidak. Juga jenis make up seperti apa yang akan dipakaikan kepada pengantin seperti mu. Ini peristiwa Halley. Terjadi sekali dalam 86 tahun. Semestinya tak boleh dilewatkan.

Tapi apa daya. Kemungkinan besar saya takkan bisa bergabung dalam gelombang keceriaan tersebut. Urusan pekerjaan belakangan memadat hingga membentuk dinding yang memagari saya dari keinginan untuk terbang. Ini adalah konsekuensi logis atas pilihan yang telah saya ambil. Semoga kau bisa mengerti.

Itu mengapa, surat ini saya tulis lebih awal. Sebagai rencana cadangan andaikata saya benar tak bisa menepati janji. Lagipula, saya sudah terbiasa ingkar dan menanggalkan janji dengan orang. Namun jika ada celah untuk ke Jakarta dan menyaksikan acara kenduri mu, tentu itu akan jadi opsi paling prioritas. Namun untuk saat ini, saya masih belum dapat memberikan garansi.

Oh iya, saat sedang menulis surat ini, salah satu single dari Begundal Lowokwaru sedang saya putar berulang di ponsel. Juga ada selinting Holly Grass yang saya hisap sembari membiarkan jari jemari saya berdansa di laptop. Di bawah meja, ada sebotol vodka Vietnam yang mungkin akan jadi kalo pernikahan buat mu.

Selamat berbahagia, kawan. Sungguh, selamat bahagia.


A
Lumpini, Bangkok. January 2014

Rabu, 12 Februari 2014

Tentang Skate-Punk


Punk di Indonesia, mayoritas-nya memiliki tabiat aneh yang sering tak bisa saya pahami. Yaitu kebiasaan untuk menciptakan lelucon yang sama sekali tidak lucu. Gurau-gurau yang tidak memiliki esensi atau dapat dikatakan, tidak berarti sedikitpun. Tidak cukup dengan mengencingi sejarah pemberontakan artistik yang pernah menjadi nafas punk itu sendiri, mayoritas domba-domba menyedihkan bernama punker di Indonesia adalah mereka yang memiliki selera humor rendah dan imbesil. Itu dilengkapi dengan keyakinan-keyakinan oksimoron yang dibangun di atas propaganda media (televisi, jurnal-jurnal apatis, majalah hingga zine-zine idiot) yang makin melengkapi ketidakberdayaan mereka sebagai konsumen dan produk dalam saat yang bersamaan. Singkat kata, upaya-upaya laboratoris punk di Indonesia tampil paling nyata dalam bentuk kegemarannya dalam menghubung-hubungkan hal-hal yang antagonistik. Dan keberhasilannya adalah ekstraksi yang kini mendominasi skena-skena underground di Indonesia.

Punk sebagai musik tentu telah diketahui banyak orang, bahwa ia lahir ketika kemapanan industri rock ‘n roll membuat semua orang memiliki selera yang homogen dan musik punk mengambil posisi sebagai the outcast. Musik punk datang dan menebas pembatas antara panggung dan ruang tonton. Menihilkan jarak antara pementas dan penonton. Mematahkan mitologi kerumitan skill ala rock ‘n roll dengan musik sederhana yang lebih menekankan emosi dan kekuatan lirik. Ketika rock ‘n roll merupakan anak baptis industri, punk adalah anak haram yang enggan dipungut untuk diadopsi. Saat pakem musik rock ‘n roll meliuk-liuk bak penari balet, musik punk hadir layaknya seorang pemabuk yang berdansa di lantai bar dengan ketidakberaturan.

Tapi itu dahulu. Sebelum punk itu sendiri menjadi pakem dan menemukan zona nyaman permanen. Sebagai contoh, adalah terminologi populer yang super duper aneh berikut ini: skate-punk.

Skate-punk muncul entah dari sudut mana dan dengan magis menyebar seperti wabah Justin Bieber. Posisinya semakin menguat dengan ditasbihkannya skate-punk sebagai sebuah varian musik punk. Sebagai produk ahistoris, tentu saja para pengusung skate-punk juga merupakan sekumpulan individu-individu dungu yang tak mengerti apa yang telah, sedang dan akan mereka lakukan. Kalian bisa menanyakan kepada siapapun yang mengaku sebagai skate-punker, mengenai definisi dari hal tersebut. Yang akan kalian temukan adalah jawaban-jawaban yang berputar di dalam labirin ketidaktahuan dipadu-padankan dengan argumentasi-argumentasi banal dan tentu saja super konyol.

Silahkan menguji pendapat saya. Semisal dengan menemui Rosemary, band skate-punk yang sempat bermain di acara kepolisian di Bandung sebagai perwakilan dari komunitas punk baik-baik, manis dan soleh.

Ketiadaan akar -yang juga berarti ketiadaan esensi, akan membuat naluri defensif seseorang berakumulasi dalam jumlah yang sering di luar prediksi. Penyangkalan, pengingkaran, pembenaran-pembenaran, hingga seribu satu alasan akan disodorkan untuk menjauhkan mereka yang datang bertanya dari substansi sebuah jawaban. Pembelaan-pembelaan oksimoron akan muncul karena sebenarnya mereka juga tak sedikitpun memiliki kesadaran mengenai apa arti dan konsekuensi dari sedang mereka lakukan. Yang mereka lakukan hanyalah mencopot segala sesuatu yang spektakuler dan mencoba teknik mix and match tanpa pernah menyadari bahwa itu justru menunjukan betapa norak-nya mereka. Level kedunguan skate-punker mungkin hanya bisa disamai oleh FPI dan FBR.

Perpaduan skate-punk adalah upaya gimnastik untuk menyandingkan olahraga dengan punk. Namun agar ia tidak terlihat menjijikan, mereka berupaya menyelubungi tema ini dengan imaji-imaji pemberontakan yang dimirip-miripkan dengan utopia perlawanan punk yang hampir punah. Sebagai musik, ia sebenarnya terdengar ear cathcing. Namun jika musik pop ala industri semata diperdagangkan sebagai produk, skate-punk justru terdengar imitatif karena berupaya menempatkan dirinya sebagai the outsider. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi karena semenjak awal ia adalah bagian dari tren industri itu sendiri.

Skateboarding sejak awal sejarah kelahirannya merupakan produk tren urban yang muncul sebagai bentuk alat bantu untuk melarikan diri bagi anak-anak muda perkotaan dari kemonotonan hidup. Hidup yang datar dan biasa-biasa saja yang diperparah dengan kondisi desain tempat tinggal mereka yang statik dan isolatif. Sebagai tren ekskapistik, skating menawarkan kebebasan-kebebasan temporer dengan menjadikan uji adrenalin di luar batas toleransi masyarakat pada umumnya sebagai proses mencapai ekstase. Skateboarding mengalienasi dan mengajarkan para penunggangnya untuk melarikan diri dari konfrontasi dan mengambil jalan populer lain. Ia adalah obat penenang yang bekerja dengan batas waktu tertentu agar mereka yang merasa muak dapat menyalurkan hasrat-nya ke arah yang lebih positif. Tidak ada satupun aspek ilegal dan berbahaya dari skateboarding. Tak ada!

Itu mengapa sejak awal, skateboarding memiliki elemen pendukung yang lengkap. Skate adalah tren popular yang berada di gelombang resmi okupasi industri terhadap semua yang berbau kontra kultur yang dikreasikan masyarakat underground. Ketika musik punk terkadang tidak bisa dinegosiasikan, menyandingkannya dengan skateboarding membuatnya jauh lebih mudah diperkosa. Itulah skate-punk dalam makna-nya yang sejati. Jembatan antara rekuperasi dengan transformasi menuju produk siap jual di pasaran.

Kalian bisa menyelidiki lirik-lirik lagu skate-punk yang bagi saya secara pribadi lebih terdengar seperti versi cepat dari lagu-lagu religius. Penuh pesan moral dan mengutamakan pasifisme yang akan membuat seseorang memaafkan polisi setelah ia menggebuk kepalamu dengan pentungan hingga berdarah. Ketika punk hampir terserap seutuhnya ke dalam skema produksi dengan tujuan mengakumulasi keuntungan, kehadiran skate-punk seperti sebuah ironi yang semestinya dikeranjang sampahkan. Silahkan menilai bahwa ini adalah aksi fasistik yang merepresi kebebasan berekspresi. Tapi penting untuk dipahami bahwa kebebasan di bawah industri tidak lebih dari perbudakan dengan rantai emas.

Juga harus disadari bahwa para skate-punker bukan hipster. Sebab hipster tidak seperti skate-punker yang menjual imaji pemberontakan. Sebaliknya hipster merupakan perayaan atas konsumerisme tingkat akut. Jika skate-punk adalah radikalisme yang selevel dengan kondom rasa durian, maka hipster adalah festival di dalam penjara relasi bernama jual-beli. Meski sama-sama menyedihkan, tapi para hipster menyadari bahwa mereka adalah pion dan membiarkannya seperti itu. Sementara para skate-punk seperti tutup pasta gigi di tepi papan catur. Mereka tidak akan pernah digunakan sampai ada pion yang hilang. Useless!

Senin, 03 Februari 2014

Tentang Punk dan Nasionalisme


Surat kepada kawan,

Maaf aku terkesan membuang waktu yang cukup banyak sebelum bisa menjawab surat elektronik mu yang terakhir. Bukan karena tak ada akses internet, tapi memang sedang malas. Setidaknya, aku harus memiliki balansi yang sempurna sebelum menulis surat ini. Semata-mata karena alkohol dan ganja, belakangan sering menemani malam-malam ku. Itu tentu saja berarti bahwa otak ku sedang berada di zona privat yang membuatku enggan menanggapi surat mu.

Namun pertanyaan mu sukses memantik dorongan untuk menjawabnya. Kau selalu tahu cara yang tepat untuk memprovokasi sisi penasaran dalam diriku yang berupaya ku bekap agar tak ke mana-mana.


Untuk itu, aku akan memulai dengan mengatakan bahwa itu tak salah. Tak ada yang salah ketika seorang punk adalah juga seorang nasionalis. Benar-benar tak salah. Pilihan itu bukanlah sesuatu yang menyimpang.

Nasionalisme, atau cinta tanah air bukanlah aib. Meskipun itu terjadi pada mereka yang mengaku dirinya punk. Semenjak injeksi tentang ideologi ini telah dimulai ketika kau bahkan belum layak berada di bangku sekolah dasar. Dari umur yang sangat muda, kita telah dipertontonkan dan tak jarang dilibatkan dalam ritual-ritual nasionalisme. Proses meng-install ini dilakukan hampir begitu sempurna hingga hanya dalam kasus-kasus tertentu yang jumlahnya tidak seberapa, dapat dijumpai mereka yang berhasil menghancurleburkan konstruksi semangat pemujaan tersebut. Jadi jika kau berjumpa dengan seorang punk yang dengan mesra menciumi nasionalisme, biarkanlah. Mengganggunya akan membuat dirimu tampak seperti mengail ikan di kolam renang.

Di Indonesia, yang sejarahnya dikencingi oleh tiap generasi -seperti juga yang terjadi di banyak tempat lain, menjadi ahistoris adalah cacat lahir setiap orang. Sisi liar kita telah ditundukkan dari dalam pikiran sehingga bertumbuh sebagai seorang budak. Dan sebagai budak, tentu saja kita memiliki level kepatuhan terhadap sesuatu yang menguasai dan empunya kuasa. Level kepatuhan ini juga berbeda kadarnya di tiap-tiap orang. Kadar ini di kemudian hari yang akan menentukan seberapa besar kemungkinan lahirnya semangat antagonis berupa pembangkangan.

Nah, level kepatuhan itu juga tak stabil. Sebaliknya ia dinamis dan bergerak naik turun seiring waktu pertumbuhan psikologis seseorang. Ada masa di mana ia berkurang dan ada tempo di mana ia justru bertambah. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup seseorang di masa lalu sangat mempengaruhi level kepatuhan. Semakin objektif iven-iven psikologis tersebut, maka semakin merekah semangat nasionalisme seseorang. Sebaliknya jika benturan-benturan tersebut berkarakter subjektif, maka akan ada degradasi level nasionalisme. Hanya ada segelintir kecil kasus di mana seseorang benar-benar berhasil menggerus nasionalisme di dalam dirinya hingga habis. Sangat kecil.

Tapi jangan kau tanya aku tentang segelintir kecil orang-orang tersebut. Aku tak ingin bercerita apapun tentang mereka. Bukan karena aku tak tahu, tapi aku telah muak menceritakan kembali tentang mereka. Sudah cukup. Aku akan menjelaskan kepadamu yang mayoritas saja. Sebab beginilah metode menakar di dalam kehidupan sosial hari ini yang mereka namakan: demokrasi

Itu mengapa bukanlah sesuatu yang tak pantas membuat kita heran ketika menemukan seorang punk terlibat begitu semangat dengan euforia 17 Agustus -yang tak jarang dihelat di puncak gunung, di tepi danau, di pantai, atau bahkan mungkin di lingkungannya sendiri. Itu biasa.

Kau tahu mengapa?

Karena memang itulah kultur mayoritas di skena-skena punk di Indonesia. Sebagian besar adalah mereka yang berhasil menghidupi sekaligus dua kutub yang beroposisi secara esensi. Sebuah campuran aneh yang uniknya eksis dalam saat yang bersamaan pada satu persona. Hebat bukan?

Ini bukan tanpa sebab. Karena memang hal ini diwariskan. Seperti yang sudah ku bilang di atas, ideologi ini direproduksi dengan sempurna di dalam lingkup skena-skena punk itu sendiri. Ia dihidupkan dalam praktek dan di ajarkan oleh generasi yang satu kepada generasi berikut. Direplikasi dan terus menerus diperbaharui dengan argumen-argumen objektif yang bertujuan agar jangan sampai terlihat borok-borok zaman yang melekat di patung nasionalisme tersebut. Tentu saja hal ini dilakukan sembari memastikan bahwa level kepatuhan seseorang tetap berada di zona aman.

Kalau kau selidiki baik-baik, akan dengan mudah kau menemukan lirik lagu-lagu punk yang kental dengan semangat nasionalisme. Hal itu bukan dilakukan tanpa sadar. Karena tentu saja sebuah lagu bukan hasil dari ketidaksengajaan atau kecelakaan waktu. Sebuah lagu merupakan ekstraksi dari isi kepala penulis dan komposer lagu tersebut. Setiap kata telah melalui seleksi ketat dalam otak melalui proses kognitif sebelum kemudian terangkai. Karena itu lagu bukan produk sim sala bim. Setiap lagu merupakan produk historis yang memberi penjelasan tentang si penulisnya.

Saya teringat sebuah kalimat sederhana dari guru statistik semasa kuliah dahulu. "Tak peduli apa cara yang kau gunakan, jika tahu prosesnya, kau tentu akan mendapatkan hasil yang tepat." Aku tak terlalu suka dengan pelajaran statistik. Tapi aku tak menyangkal bahwa kalimat itu masih terasa nyantol di telinga.

Di skena-skena punk, hadirnya perilaku-perilaku yang melanggengkan semangat nasionalisme tersebut dianggap lumrah dan sangat jarang dipertanyakan. Sebabnya, tak ada keberanian untuk memeriksa kembali esensi dari setiap tindak-tanduk pribadi. Ketidakberanian ini berkait erat dengan ketakutan untuk berhadapan dengan ketidakmungkinan dan tragedi yang akan terjadi di kemudian hari. Seperti layaknya peramal yang bisa menebak masa depan, banyak punk yang enggan untuk mempertaruhkan hidup dan kehidupannya yang telah berada di zona nyaman dengan sesuatu yang masih belum terprediksi. Itu seperti berjudi. Dan untungnya, banyak punk bukanlah penjudi.

Untuk berjudi, diperlukan dua hal: tahu dan berani. Seorang penjudi yang baik adalah seseorang yang tahu dengan benar apa yang sedang dihadapinya dan konsekuensi yang bakal menjadi ganjaran. Di saat yang bersamaan ia juga mesti berani untuk mempertaruhkan semua yang ia miliki. Kebanyakan punk di Indonesia tak punya itu. Mereka tak tahu dan tak berani. 

Sebab untuk tahu sesuatu, kamu mesti berani melakukan pengorbanan. Mengorbankan waktu, uang, relasi sosial dan bahkan cinta. Untuk mendapatkan pengetahuan, seorang punk mesti menantang diri sekaligus menerima tragedi dengan tangan terbuka. Agar seseorang berani melakukan itu semua, ia mesti tahu dengan dirinya, lingkungan sosial dan alam di sekitar dirinya. Dia mesti mengenali apa kebutuhan, kemampuan dan batas-batas imajiner lain yang akan dilampaui. Tanpa itu semua, seperti menuju medan pertempuran tanpa persiapan dan senjata.

Tahu dan berani adalah proses yang berjalan beriringan dan mesti dihentak bersamaan geraknya. Jika hanya menyalakan salah satu, imbalansi yang akan menjadi hasil. Memiliki pengetahuan tetapi penakut atau kemudian menjadi pemberani tanpa pengetahuan. Jika orang dengan ketidakseimbangan seperti itu menghadapi perang, tentu saja ia berakhir menyedihkan. Dan itulah yang kau lihat.

Mereka yang kau lihat adalah punk yang eksis bertahun-tahun dan menjadi legenda (seperti SID dan Marjinal, misal) justru adalah orang-orang dari kedua tipe yang ku sebutkan sebelumnya. Bagaimana akan dengan mudah kau temukan orang-orang bermulut besar dengan heroik mengumandangkan semangat ke-Indonesia-annya di skena-skena punk. Juga mereka yang hanya mampu menggerutu sembari memandangi kafilah nasionalistik itu berlalu. Dua tipe yang akan terus hadir karena itu adalah kutukan abadi. Seperti abadinya kemungkinan bahwa celah sekecil apapun akan membuka jalan bagi domba-domba yang berevolusi menjadi serigala dan berlari meninggalkan kawanan tersebut.

Tapi mesti lagi ku ulang, aku tak ingin menceritakan tentang para serigala tersebut. Biarlah cerita-cerita mereka hidup dalam percakapan-percakapan rahasia dan romantik antar dua orang. Jangan lagi kisah-kisah itu dibawa di panggung pertunjukan, seperti bagaimana punk hari ini.

Jadi, janganlah lagi kau membuang energi untuk bertanya soal itu, kepada ku tentunya. Tak ada lagi energi yang cukup dalam diriku untuk hal-hal seperti ini. Membiarkan scenester-scenester punk melilit leher sendiri dengan rantai perbudakan, adalah jalan yang terbaik. Sebagaimana juga banyak punk itu sendiri yang menyebarkan wabah nasionalisme dan bagaimana hal ini sebagai penyakit dalam diri yang tidak perlu diobati. Agar nanti kau tak akan terkejut ketika misalnya mendapati punk yang sedang menghormat kepada bendera merah putih. Punk yang dengan khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya, atau bahkan menciptakan lagu tentang betapa berbahagia dan bangganya mereka menjadi bangsa Indonesia. Itu sama seperti menemukan seseorang dengan dandanan punk lengkap dengan logo swastika di salah satu bagian jaket atau jeans-nya. Tak usah di tegur karena itu hanya akan membuat mu terlihat sebagai polisi punk.

Setiap orang di skena-skena punk memiliki kebebasan untuk berekspresi. Entah itu ekspresi seorang budak atau menjadi seorang penurut dengan rasa cinta tanah air yang hanya bisa disaingi militan-militan para militer.

Biarkan saja punk di Indonesia dengan semangat cinta tanah airnya. Itu adalah permata imitasi yang mereka kenakan agar bisa diterima sebagai bagian dari masyarakat hipokrit hari ini. Itu bukan sebuah kesalahan. Tak ada yang memiliki hak untuk mengatakan bahwa perjuangan punk agar diakui keberadaannya di tengah-tengah warga negara yang lain, bukanlah sesuatu yang adalah kekeliruan. Tidak. Itu tidak keliru.

Karena punk nasionalis adalah wajah mayoritas skena-skena di Indonesia. Dan kau, serta beberapa orang lain yang tak ingin ku ceritakan, merupakan minoritas tak punya hak untuk komplain atau protes. Sebab menjadi minoritas di Indonesia dalam formasi kelompok apapun, termasuk punk itu sendiri, berarti membuatmu kehilangan hak untuk mengutarakan pendapat. Punk di Indonesia adalah mereka yang memiliki kecanduan dengan persoalan kuantitas. Terobsesi dengan jumlah atau kawanan yang besar. Ketergandungan yang menjelaskan kenapa punk bermental gerombolan karena tak memiliki keberanian yang cukup untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Itu mengapa aku menyarankan kau untuk merayakan posisi minoritas mu dan acuhkan saja mereka yang berada di seberang. Lalu biarkan aroma pesta barbekyu-mu, menyebar dan mengundang rasa penasaran dari satu dua orang untuk datang mencicipi.

Aku mungkin tak akan menghadiri pesta mu. Aku sendiri, telah mendedikasikan diri sepenuhnya untuk mengejar tren dan menenggelamkan diri di dalamnya. Menjadi peselancar di dunia yang penuh histeria temporer dan delusi-delusi yang selalu membuatku orgasme saat membantingku dengan keras ke lantai kenyataan. Aku membiarkan tipuan-tipuan mencekik leher kebebasanku agar semakin sedikit oksigen yang bisa dihirup.



Kini, aku adalah hipster.

Jumat, 24 Januari 2014

Tentang Etos DIY dan Anti Kapitalisme


Intervensi bermakna campur tangan jika ia dilakukan oleh yang memiliki kuasa kepada para budak. Jika dilakukan sebaliknya [oleh budak kepada para tuannya], maka ia lebih layak disebut pemberontakan.
--Lettrist International

Tadi malam, dengan sengaja saya membuka Facebook sembari melihat beberapa postingan dari kawan-kawan di jejaring media sosial ini. Melakukan aktifitas ini tanpa harus mengaktifkan chat, merupakan kebiasaan yang terus saya pelihara dengan sengaja. Seorang kawan pernah mengatakan bahwa kegiatan itu dinamakan stalking, dan itu berarti bahwa saya adalah seorang stalker. Namun seperti biasa, sebagai seorang hipster, saya tak terlalu peduli dengan penilaian orang. Sepanjang saya menikmatinya, saya sudah cukup senang.

Dan memang tak salah. Saya menemukan satu posting yang cukup menarik yang diunggah oleh Man, kawan asal Malaysia. Sebuah link video berdurasi cukup singkat mengenai Libertad Fest 2013 yang digagas di salah satu di antara jejeran pulau di Kepulauan Seribu. Mereka menyebutnya Poison Island. Keren kan namanya?

Video tersebut menampilkan sebuah olimpiade bir estafet yang lebih menyerupai single triathlon yang lucu di mana para peserta mesti berlari dari satu titik ke titik lain dan meminum habis sekaleng bir dengan menggunakan sedotan. Sungguh sebuah ide yang seharusnya lebih sering dilakukan.

Dalam video, tampak beberapa wajah yang saya kenal sebagai scenesters Bandung. Terus terang, saya larut dalam video itu hingga menontonnya hingga selesai. Hingga akhirnya seperti biasa, lepas sebuah video yang ditonton, YouTube akan menutupnya dengan caption-caption dari video lain yang dianggap berhubungan. 

Termasuk video mengenai aksi okupasi panggung oleh Kontra Sosial di ajang Obscene Extreme Asia (OEA) April 2013. Saya menggerakkan mouse ke arah video itu, dan click.

Dan, saya menonton video ini hingga selesai. Melompat dari satu bagian ke bagian lain hingga benar-benar tuntas.

Karena penasaran dengan perdebatan di dalam video tersebut, saya beberapa kali harus menggerakkan video mundur beberapa detik ke belakang. Saya tak ingin kehilangan detil tentang hal ini. Usai menonton bagian terakhir, saya kembali memutar bagian pertama. Hal ini juga saya lakukan beberapa kali agar saya yakin betul dengan apa yang saya dengar dari debat yang terjadi di dalam video-video tersebut.

Meskipun sebenarnya, hal ini bukan hal yang baru di telinga saya. Aksi okupasi panggung oleh Kontra Sosial di OEA 2013, memang mengundang pro-kontra. Ada yang sepakat, namun tak sedikit yang mencibir aksi ini. Beberapa menilai bahwa intervensi Kontra Sosial dilakukan pada momen yang tepat. Sedang pihak lain menuduh aksi ini sebagai aksi sensasional belaka untuk mendongkrak popularitas.

Untuk argumen yang terakhir ini, sungguh tak lucu namun mampu membuat saya tersenyum kala mendengarnya dahulu.

Komunike aksi yang sempat dibacakan oleh Ebby, sang vokalis, tak lama kemudian dipublikasikan di weblog Kontra Sosial. 

Yang menarik dalam video ini adalah perdebatan soal etos DIY (Do It Yourself) dan keterlibatan korporasi antara Mike, vokalis band punk papan atas, Marjinal, dengan personil Kontra Sosial, yang mana ikut melibatkan individu lain seperti Ambon seorang scenester punk asal Jakarta dan seorang lagi yang tak saya kenal yang tampak bersemangat mendebat Kontra Sosial.

Kesimpulan prematur sekaligus tentu saja subjektif dari saya, selepas menonton video itu adalah, betapa telah adanya kerelaan massal ketika etos DIY disanding mesra dengan dagelan korporasi. Semenjak "tak ada yang bisa lari kapitalisme", jika meringkas argumen Mike Marjinal. Argumen yang tentu saja secara tekstual tampak sangat benar karena segala sesuatu yang hari ini kita miliki (properti benda, ruang, waktu, teknologi dan instrumen pendukung lain) merupakan produk atau komoditi yang diperjual belikan dengan nominal tertentu dan keuntungan yang telah diprediksikan. Dengan kata lain, hari ini anti-kapitalisme tak lebih dari rongsokan masa lalu dan tentu saja usang untuk hadir kembali hari ini.

Tapi apakah argumen Mike Marjinal sungguh tak terbantahkan, dengan mengajukan contoh tentang kaos, tinta sablon hingga pedagang kaki lima, hingga kemudian aksi simbolik-praktikal seperti okupasi panggung yang dilakukan oleh Kontra Sosial, tak layak lagi mendapat tempat? Lantas, Mike menyamaratakan okupasi tersebut dengan tindakan Front Pembela Islam (FPI) yang mengganggu kebebasan orang lain?

Ya. Mike Marjinal memang benar. Sangat benar.

Bahwa hari ini tak ada yang bisa lari dari kapitalisme tak bisa disangkal. Bahwa kita semua adalah konsumen dan pion dalam transaksi ekonomi yang menguntungkan minoritas, adalah tepat adanya. Bahwa orang-orang seperti Mike merasa terganggu ketika ada yang masih mengusung utopia tentang perlawanan, tentu merupakan sikap yang tepat.

Argumentasi Mike (dan semua yang bersepakat dengannya) di atas merupakan realitas dari wajah mayoritas dari khalayak underground yang telah mengangkat tinggi-tinggi kedua tangan mereka sembari mengibarkan bendera putih dengan gembira. Kebahagiaan di mana sejak bertahun-tahun lalu, seluruh energi pemberontakan telah menandatangani perjanjian damai dengan apa yang dahulu mereka tuduh sebagai musuh. Bahwa hari ini, etos DIY sudah dipandang sebagai senjata yang mesti dilucuti agar kesepakatan dapat berlangsung di meja perundingan. Itu mengapa sejak meredupnya euforia turunnya Jenderal Soeharto pada Mei 1998, pandangan visioner tentang kehidupan yang lebih kompromis menjadi tuntutan yang paling mendasar. Dan semua degradasi itu dilakukan dengan tanpa paksaan.

Prinsip-prinsip yang dahulu menjadi penanda antara mereka yang berada di higherground dan underground mesti ditiadakan. Sebabnya, pembeda-pembeda itu adalah tembok penghalang dari unifikasi yang telah lama dicita-citakan, mengenai pengakuan akan eksistensi dan berbagai tipikal kebebasan parsial sejenis. Demi sebuah masyarakat yang harmonis, seluruh utopi yang berdaya ledak tak boleh lagi mendapat tempat. Tak boleh bahkan hanya sejengkal.

Sikap Mike pada video itu tepat sekali, dengan mengambil posisi secara terbuka sebagai juru bicara mereka yang telah mencukur habis seluruh daya teror dan ledak dari komunitas underground. Bahwa penolakan terhadap 7-11 (Seven Eleven) yang dikumandangkan oleh Kontra Sosial, tentu saja mengancam perjanjian damai yang telah ditanda tangani bertahun-tahun lampau. Pendek kata, sikap Kontra Sosial dan Ambon, adalah watak separatis yang mengancam keutuhan dan integrasi menyeluruh dari masyarakat underground yang hingga kini terus mengkampanyekan pengakuan eksistensi dari masyarakat higherground.

Bahwa suara-suara penolakan mesti dibungkam secepat mungkin, sebelum ini menjalar dan menjadi wabah yang tentu saja dapat membahayakan semua capaian paska perjanjian damai tersebut.

Mike Marjinal dalam pandangan saya bukan seorang yang ahistoris. Sebaliknya, ia paham betul tentang sejarah. Yang mana telah dibuktikan berkali-kali, bahwa sekecil apapun kemungkinan yang terbuka untuk sebuah pemberontakan, ia akan menjalar seperti api dan menghanguskan keseluruhan konstruksi yang telah susah payah dibangun. Dan itu mengapa secepat mungkin Mike mengambil inisiatif sebagai pemadam kebakaran sebelum semuanya menjadi tidak terkendali, menjadi chaos.

Etos DIY adalah kuburan tanpa nama. Ia tak boleh lagi disebut, seperti haramnya nama Voldemort diucapkan oleh para penyihir lain di film Harry Potter. Sebisa mungkin, mesti ada upaya menghalangi bagi siapapun yang mencoba menziarahi atau bahkan mencoba menghidupkan kembali DIY. Generasi hari ini mesti diajarkan bahwa kehidupan hari ini baik-baik saja dan mesti dipertahankan. Kalau memungkinkan, seluruh memori tentang aksi-aksi pemberontakan di masa lampau mesti disalib hingga mampus lalu dibakar, kemudian abunya di buang ke dalam lubang yang paling dalam. Semua demi menutup pintu-pintu kemungkinan, seperti argumen berbahaya dari Billy Anjing di video tersebut. Karena hari ini, akta perjanjian itu terlihat masih sangat rapuh dengan keberadaan individu-individu seperti para personil Kontra Sosial dan Ambon. Itu mengapa segala upaya untuk menjaganya mestilah berada di level paling maksimal.

Okupasi panggung oleh Kontra Sosial yang diawali dengan pembacaan komunike hingga dirangkai dengan open mic, tentu adalah kecerobohan yang tak boleh lagi terulang di hari esok. Paling tidak jangan sampai di Obscene Extreme Asia 2014 nanti, ada pihak-pihak yang mengulang aksi tersebut. Karena jika sampai itu terulang, itu adalah gejala-gejala awal yang mesti diwaspadai tentang tersebarnya virus pembangkangan. Sungguh akan menjadi hal yang tidak pantas, memalukan sekaligus merupakan serangan telak bagi Mike Marjinal dan mereka yang berada sebarisan dengannya.